Beranda»Agamaning Wong Balong Konsep Pemecahan Konflik
FOKUS UKSW
06 July 2011 21:25
Agamaning Wong Balong, Konsep Pemecahan Konflik

Agamaning Wong Balong, Konsep Pemecahan Konflik

Dalam hubungan Jawa-Cina di Indonesia, selalu mengemuka sisi integratif disamping sisi konfliktif, yang menempatkan etnis Jawa dan Cina sebagai masyarakat rentan. Fenomena ini mengarahkan penelitian Johannes Setiawan pada kota Surakarta yang dalam konteks hubungan Jawa-Cina memiliki permasalahan yang bersifat local genius (keaslian lokal), baik dari sisi konfliktif maupun sisi integratif.

Hal tersebut mendasari penelitian disertasi Johannes Setiawan yang berjudul Agamaning Wong Balong (Suatu Analisis Sosiologi Agama berdasarkan Pendekatan Teori Durkheim terhadap Agama Masyarakat yang dimunculkan oleh Integrasi Jawa-Cina di Kampung Balong, Surakarta). Disertasi tersebut berhasil dipertahankan dalam ujian terbuka Program Studi Doktor Sosiologi Agama Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Senin (4/7) di ruang Probowinoto kampus UKSW.

Hubungan Jawa-Cina di Surakarta yang pluralis, menampilkan sisi konfliktif yang ditandai dengan kerusuhan sosial yang terjadi berkali-kali, dan sisi integratif yang ditandai dengan membaurnya etnis Jawa-Cina dalam suatu ikatan kolektif seperti yang nampak di Kampung Balong. Terintegrasinya etnis Jawa-Cina di kampung ini ke dalam suatu ikatan moral telah membawa masyarakatnya ke dalam suatu komunitas moral yang dapat dimaknai sebagai agama.

Pemecahan Konflik

Temuan dari disertasi ini memperlihatkan bahwa komunitas moral Jawa-Cina di kampung Balong dalam kenyataannya berfungsi sebagai Agama Masyarakat yang menjalankan fungsi-fungsi sosial di ruang publik, dan menjadi perekat dari semua elemen masyarakat. Agama Masyarakat kampung Balong sebenarnya merupakan penjelmaan realita sosial yang ada disana khusunya, dan Surakarta umumnya.

Peran dan perilaku Agama Masyarakat, masyarakat kampung Balong dapat dilihat dalam berbagai hal. Untuk memerangi problem kemiskinan, mereka wujudkan dengan mendirikan Koperasi Serba Usaha. Ketika terjadi kerusuhan sosial di Surakarta, masyarakat kampung Balong tetap kokoh karena Agama Masyarakat mereka mampu menjalankan perannya sebagai penengah ditengah konflik antar golongan.

Agama orang Balong bertalian dengan kekhasan agama yang telah melucuti dirinya dari kungkungan transendentalnya. Belajar dari agama orang Balong, seharusnya agama membebaskan diri dari cengkeraman prasangka dan stereotif, dan memberikan dirinya tempat persemaian tumbuhnya perdamaian, toleransi dan integrasi sosial.

Menyikapi Indonesia yang sarat dengan berbagai macam konflik berlatar belakang sosial ekonomi, komunal, rasial, politik sampai konflik agama, konsep agama Balong yang dipadukan dengan prinsip-prinsip Pancasila dapat menjadi rujukan konsep pemecahan konflik yang orisinil di Indonesia.

Ujian Terbuka

Dalam merampungkan disertasinya, Johannes Setiwan dibantu Promotor Prof. Pdt. John A. Titaley, Th.D dengan Ko-Promotor Dr. David Samiyono dan Prof. Dr. Kutut Suwondo, MS. Sementara penguji disertasi ini adalah Dr. Pamerdi Giri Wiloso dan Pdt. Yusak B. Setyawan, MATS, Ph.D. Hadir pula dalam acara ini Dekan Fakultas Teologi UKSW Pdt. Dr. Retnowati, M.Si.

Doktor ke-5

Johannes Setiawan menjadi Doktor Sosiologi Agama kelima dari program studi Sosiologi Agama Fakultas Teologi UKSW. Pendeta ini juga dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan peace building dibeberapa daerah. Sekarang ini, Johanes juga aktif pada Forum Kerukunan Masyarakat Pekalongan dan Lembaga Bakti Kemanusiaan Umat Beragama di Kabupaten Boyolali.

Pria kelahiran Malang, 9 Maret 1954 ini sebelumnya telah memperdalam ilmu misiologi dari Graduate School of Theology dari Lee University, Cleveland-Tennessee. Tahun 1982, Johannes ditahbiskan menjadi Pendeta di GBI Pekalongan. Menjadi seorang pendeta tidak menyurutkan semangatnya mencari ilmu. Tahun 1993 Johannes kembali menyelesaikan tesis tentang pneumatologi GBI di STT Jakarta. Studi Sosiologi Agama yang berhasil diselesaikannya tahun ini menjadi tujuan Johannes selanjutnya mengingat pentingnya konteks sosial gereja. (Johannes/upk_bphl/foto:upk).