Beranda»Saffest 2013
FOKUS UKSW
19 April 2013 10:29
SAFFest 2013

SAFFest 2013


Finger Kine Klub, salah satu Kelompok bakat Minat (KBM) dilingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menyelenggarakan acara Salatiga Film Festival (SAFFest) 2013, Kamis (11/4) di Balairung UKSW.

SAFFest 2013 ini, panitia menyelenggarakan kegiatan mini workshop membedah “Manajemen Produksi” dan “Kelemahan DSLR”. Selain itu panitia juga mengadakan pemutaran film hasil karya komunitas-komunitas film yang ada di Salatiga dan juga film-film hasil karya para pembicara yang dihadirkan. 

Radian “Jawa” Kanugroho, seorang sineas amatir dari Jakarta dihadirkan sebagai pembicara dalam kegiatan ini. Radian bersama dua rekannya Audevian Monda dan Haryoko Sari Wiguna membagikan ilmu seputar pembuatan film.

Triangle System menjadi menu pertama yang disampaikan Radian pada saat mengawali mini workshop “Manajemen Produksi” dalam pembuatan film. Disebutkannya, dalam pembuatan film ada tiga elemen utama yang saling terkait, yaitu seorang produser yang notabene sebagai pengatur operasional dan pemberi fasilitas, sutradara, dan yang elemen ketiga adalah seorang penulis yang akan membuat cerita untuk difilmkan. Keterkaitan ketiga elemen inilah yang disebut sebagai Triangle System oleh Radian. Radian juga menyarankan agar ketiga elemen penting ini dijalankan oleh tiga orang yang berbeda karena menurutnya akan bisa timbul kekacauan apabila dua elemen atau bahkan tiga elemen tersebut dijalankan oleh satu orang.

“Kelemahan DSLR” menjadi tema yang diangkat dalam mini workshop sesi yang kedua. Tema ini diusung karena saat ini para komunitas film telah banyak menggunakan kamera DSLR untuk pembuatan film. Audevian Monda menjadi pembicara utama dalam sesi ini.

Monda menuturkan bahwa kamera DSLR pada awal mulanya diciptakan hanya untuk fotografi, namun karena adanya momen-momen indah yang terkadang sayang untuk dilewatkan dan lebih indah untuk direkam menjadi sebuah video atau film, maka produsen kamera DSLR menambahkan fungsi pada kamera ini sebagai perekam video. Sebelum membahas mengenai kelemahan kamera DSLR dalam proses pembuatan film, Monda menjelaskan beberapa keunggulan dari penggunaan kamera DSLR, diantaranya adalah lensa kamera DSLR dapat diganti-ganti sesuai keinginan dan kebutuhan, memiliki sensor yang besar, memiliki resolusi yang cukup bagus, portable karena memiliki body yang kecil, dan harganya jauh lebih murah. Namun disis lain diungkapkan Monda, kamera DSLR juga mempunyai kelemahan, yaitu kamera ini tidak ringkas karena harus ditambah peralatan-peralatan pendukung seperti peralatan tambahan untuk sound dan lain sebagainya. Selain itu, menurutnya dengan menggunakan kamera DSLR, seorang kameramen harus lebih jeli karena kamera ini memiliki layar monitor yang kecil.

Pemutaran Film

Selepas istirahat makan siang, kegiatan SAFFest 2013 dilanjutkan dengan sesi pemutaran film. Ada tujuh film hasil karya komunitas film dari Salatiga dan dua film hasil karya pembicara yang diputar dalam sesi ini.

Ketujuh film hasil karya para komunitas film dari Salatiga yang diputar tersebut berjudul “My Love” dan “Respect” hasil karya Commedia, “Cintaku Berkusta”  dan “Rispetto” hasil karya Xfilis, “Pulang” hasil karya Rumah Karya Lensa Sineas, “Siska Anabela” hasil karya Round-E Production, dan “Merah atau Putih” hasil karya IMAC Garasi Indonesia. Sedangkan dua film dari pembicara yang diputar dala sesi pemutaran film ini berjudul “Lupakan” dan “Hallo, Selamat Tinggal!”. Para peserta yang hadir dalam kegiatan ini sangat antusias dan sangat menikmati film-film yang diputar dalam sesi terakhir dari kegiatan SAFFest 2013 ini. (dan/upk_bphl/foto:daniel).