Beranda»Toleransi Bukan Sekedar Teori
FOKUS UKSW
05 October 2017 17:36
Toleransi Bukan Sekedar Teori

Toleransi Bukan Sekedar Teori

Banyaknya permasalahan intoleransi yang berkembang, membuat topik toleransi menjadi hangat diperbincangkan. Namun tidak sedikit praktek-praktek toleransi dilakukan oleh sekelompok kecil masyarakat yang seringnya tidak tersorot oleh kelompok masyarakat lainnya.

Hal inilah yang melatarbelakangi Campus Ministry (CM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar kegiatan bertajuk “Diskusi Kepemimpinan yang Melayani” dengan mengangkat tema “Toleransi”, Jumat (29/9) pagi, di Balairung Universitas. Secara resmi kegiatan ini dibuka oleh oleh Rektor UKSW Prof. Dr (H.C) Pdt. John A. Titaley, Th.D.

Hadir sebagai narasumber adalah komunitas Merkid’s dari Yogyakarta yang diwakili oleh Hassanudin selaku ketua dan Oky Yoga yang menjabat sebagai kooordinator humas dan sumber daya manusia. Hadir pula Pdt. Agus Sutikno yang merupakan Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Semarang sebagai narasumber.

Hassanudin menuturkan bahwa toleransi yang dibangun dalam komunitasnya berawal dari hal kecil dan sederhana. Dirinya mencontohkan tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota komunitas sosial ini. Dengan anggota yang hampir mencapai 2400 orang dan tersebar diberbagai daerah di seluruh Indonesia tersebut, Merkid’s tidak memandang suku, agama, serta strata sosial.

“Kebanyakan orang terlalu memikirkan apa itu toleransi dan bagaimana cara melakukannya, sehingga tidak sedikit yang melupakan praktik dari toleransi. Melalui komunitas sosial ini kami ingin memaknai tolerasi, semboyan yang kami usung adalah seduluran tanpa memandang perbedaan,” tutur Hassanudin.

Dihadapan ratusan peserta yang merupakan mahasiswa UKSW, Oky menceritakan pengalamannya membagun komunitas yang awalnya dikenal oleh masyarakat sebagai komunitas urakan dan nakal. Pada tahun 2006, dikatakan Oky mereka merombak diri menjadi komunitas yang memiliki solidaritas sosial tinggi.

Merkid’s saat ini dikatakan Oky telah menjadi komunitas yang fokus pada kegiatan sosial dalam menghimpun bantuan maupun sebagai tenaga sukarelawan, “Jujur saja, jika  mempermasalahkan perbedaan kegiatan sosial akan terhenti, namun yang terpenting adalah berbuat baik semampu kita kepada siapapun, karena Tuhan sendiri tidak memandang rupa”, tegas Oky menanggapi permasalahan toleransi.

Kepemimpinan menghamba

Sementara itu sebagai narasumber kedua Pdt. Agus  Sutikno hadir membagikan pengalamannya melayani masyarakat pinggiran. Dengan wajah yang hampir dipenuhi dengan tato, membuat Pdt. Agus secara fisik tidak seperti pendeta pada umumnya.

Namun kisah dalam perjalanan pelayanannya yang menyasar perkampungan kumuh, dengan tujuan melayani orang yang diabaikan oleh kebanyakan kalangan seperti para pekerja seks, transgender, dan orang-orang pengidap HIV/AIDS, anak terlantar dan lainnya, membuatnya terbentuk dalam kepemimpinan Allah.

Baginya pelayanan di jalanan ini bukan hal yang salah, karena banyak orang-orang melupakan untuk hadir di lingkungan kaum terbaikan, namun pelayanan yang dijalaninya merupakan misi dari Tuhan. “Ketika kita melayani, disitulah Tuhan dipermuliakan. Hal ini yang menjadi dasar saya melayani,” papar pendeta kelahiran Probolinggo tersebut.

Diakhir acara yang dipandu oleh Giner Maslebu, S.Pd., S.Si., M.Si sebagai moderator tersebut, ketiganya berharap adanya suatu kegerakan baru bagi seluruh mahasiswa mengenai kehidupan pemimpin yang melayani serta praktek toleransi. (jo/chis/upk_bpha/foto:chis).