Beranda»Pr Dituntut Siap Hadapi Tantangan
FOKUS UKSW
01 February 2019 16:56
PR Dituntut Siap Hadapi Tantangan

PR Dituntut Siap Hadapi Tantangan

Wajah pranata humas atau Public Relation (PR) dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami pergeseran. Karakteristik utama seorang PR kini tidak sebatas memiliki penampilan yang menarik namun bagaimana kemampuannya dalam memainkan peran sebagai seorang PR. Hal ini diungkapkan Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi, Johan Budi Sapto Pribowo.

Dihadapan peserta talkshow “What is the reality of Public Relation” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa dan Program Studi Hubungan Masyarakat Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Johan Budi menyebut profesi PR adalah talenta, semua fungsi dan tugas kehumasan dapat dipelajari, namun tidak semua dapat melakukannya karena dibutuhkan kepekaan.

“Kunci utama seorang PR adalah memahami apa yang disampaikan. Saat membawakan fungsi PR dihadapan media dan masyarakat pastikan anda pahami kondisi lembaga yang anda wakili. Jangan ucapkan sekecil apapun kebohongan, sebab sebuah lembaga akan dipercaya masyarakat apabila PR-nya dapat dipercaya,” tegas Johan di Auditorium FTI, Kamis (31/1) siang.

Dalam kesempatan tadi, pria yang sempat menjabat sebagai juru bicara KPK ini juga menyebut bahwa integritas seorang PR harus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Disinggung mengenai cara Johan Budi dalam keseharian tugasnya termasuk dalam menangani media, lulusan Fakultas Teknik UI ini mengatakan bahwa selama ini dirinya memposisikan diri setara dengan awak media.

Hal ini dimaksud agar apa yang menjadi tujuan lembaga dapat sampai kepada masyarakat dengan baik. Bersosialisasi dengan banyak orang dan memahami setiap detail karakteristik pribadi disebutnya juga adalah kunci. Senada, Suherman Corporate Secretary PT Bukit Asam yang juga hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini menyebut kemampuan menangani  media menjadi salah satu tantangan sebagai seorang PR.

Belajar dari pengalaman

Pria yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana ekonomi ini memilih melakukan pendekatan dengan menggelar pertemuan rutin dan diskusi bersama awak media. Saat menjalankan perannya sebagai PR di perusahaan tambang batubara yang terletak di Tanjung Enim Provinsi Sumatera Selatan tersebut, Suherman mengatakan pengalaman menjadi guru terbaik baginya.

“Saya terus belajar, meskipun dasar pendidikan saya bukan dari komunikasi namun saya mencintai apa yang menjadi pekerjaan saya sekarang,” imbuhnya.

Adapun dari bidang perhotelan hadir General Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari. Lulusan Fakultas Hukum UNS Surakarta ini mengaku awalnya bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan dua pembicara lainnya, Retno juga menyebut menjadi seorang PR harus memiliki kepekaan.

Dua hal terpenting menurutnya yakni suka menolong dan cepat merespon. Merespon disini dimaksud seperti tanggap akan kebutuhan media, karena PR erat kaitannya dengan awak media. Untuk menjadi PR yang baik, Retno membagikan kiat yakni dengan menggali banyak informasi dari sumber yang tepat serta belajar menyampaikan informasi dengan baik.

“Tantangan menjadi PR di hotel cukup banyak, apalagi ditengah ketatnya persaingan karena pesatnya pertumbuhan hotel di kota Solo. Kami berusaha terus menjaga tradisi namun juga berkembang mengikuti perkembangan jaman yang disebut sebagai jamannya generasi milenial,” tutur Retno.

Dalam talkshow yang dimoderatori oleh dosen prodi Hubungan Masyarakat UKSW Richard G. Mayopu, S.Sos., M.Si., ini ketiganya secara kompak berpesan agar selama di bangku kuliah para peserta mengasah kemampuan di luar teor-teori yang telah dipelajari di kampus. Ketiga narasumber juga mengajak mahasiswa untuk senang menulis sehingga nantinya dapat menumbuhkan kepekaan di bidang PR.

Sementara itu, melalui sambutannya di awal acara, ketua prodi Hubungan Masyarakat UKSW Dr. Rini Darmastuti, M.Si., berharap melalui kegiatan yang menghadirkan tiga pakar PR dari bidang yang berbeda ini dapat memberikan wawasan kepada mahasiswa realita pekerjaan yang nantinya akan mereka geluti.

“Narasumber yang memiliki latar belakang bukan dari prodi PR tentu menjadi sebuah tantangan bagi mahasiswa, namun kami berharap mahasiswa dapat menggali pengalaman dari ketiganya,” tutur Rini. (chis/upk_bpha/foto:gde_bpha)