Beranda»Peran Agama Dalam Konteks Global Dikupas Pembicara Lintas Benua
FOKUS UKSW
11 February 2019 17:24
Peran Agama dalam Konteks Global dikupas Pembicara Lintas Benua

Peran Agama dalam Konteks Global dikupas Pembicara Lintas Benua

Tantangan negara dalam menghadapi isu agama dan politik dikupas dalam sebuah Diskusi Panel “Interreligious Engagements In Global Context” yang digelar di Auditorium Ds. S. Djojodihardjo kampus UKSW Jalan Notohamidjojo, Blotongan pada Kamis (7/2). Kegiatan ini digagas oleh Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM), Fakultas Teologi dan Pusat Studi Agama Pluralis dan Demokrasi (PuSAPDem) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Hadir dalam acara ini tiga pembicara yaitu  Dr. Leo Lefebure dari Georgetown University, Dr. Samia Kotele dari ENS de Lyon, dan Dr. Izak Lattu dari PuSAPDem.

Dalam paparannya tentang tantangan negara dalam menghadapi isu agama dan politik, Dr. Izak Lattu yang juga dosen Fakultas Teologi ini menyebutkan saat ini agama menjadi salah satu isu sentral dalam proses politik global. “Agama sangat menentukan karena itu menjaga bagaimana agama tetap pada rel konstitusi adalah penting sekali,” ungkapnya. Tantangan Indonesia saat ini adalah menjaga negara ini tetap berjalan berdasar UUD 1945 dan Pancasila. Negara juga harus bisa menjaga UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar untuk berdemokrasi.

Masih menurut peraih gelar Ph.D dari Graduate Theological Union, Berkeley, Amerika Serikat ini, pertanyaannya saat ini adalah apakah sistem demokrasi kita memungkinkan negara mengambil langkah tegas terhadap kaum-kaum radikal. Disampaikannya demokrasi esensinya adalah perlindungan bagi semua, termasuk untuk kaum radikal. Demokrasi tidak bisa hanya berdasar dari suara terbanyak saja tetapi berdasar pada konstitusi.

“Jika berdasar pada suara terbanyak Indonesia bisa berubah  ke bentuk negara yang lain. Tetapi kalau ada Pancasila dan UUD 1945 suara apapun tidak boleh bertentangan, kita tetap berjalan pada jalur itu. Siapa saja yang melanggar tidak hanya berhadapan dengan pemerintah, tetapi juga negara. Pemerintah harus lebih tegas,” paparnya.

Terbuka

Kaitannya dengan isu agama dan politik, disebutkan Izak Lattu mahasiswa harus banyak-banyak belajar terbuka, belajar bersama dengan orang yang berbeda.

“Banyak belajar dengan orang yang berbeda, baik berbeda agama, etnis, budaya sehingga mahasiswa lebih terbuka. Kalau mahasiswa belajar secara eksklusif maka dalam kehidupan bermasyarakat dia akan eksklusif juga. Hal ini sudah dipraktekan di UKSW lewat kurikulum yang diterapkan, mahasiswa muslim belajar dengan agama lain, juga ada tempat ibadah untuk yang beragama Islam,” imbuhnya.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Lefebure secara khusus membicarakan dialog antar agama dalam konteks politik global, sementara itu Dr. Kotele membahas dialog antar agama di Eropa, terutama Islam – Kristen.

Kegiatan ini diikuti sedikitnya 400 peserta yang terdiri dari mahasiswa Prodi Hubungan Internasional UKSW dan juga mahasiswa magister dan doktor Sosiologi Agama. Petsy Jessy Ismoyo, S.Hum., M.Si selaku ketua panitia menuturkan diskusi ini diadakan sebagai dialog untuk membicarakan pelibatan agama dalam sela-sela demokrasi pada masyarakat pluralis. (mei_jurkam/upk/chis_bpha/foto:gde).