Selasa, 06 September 2016

DIBEBASKAN UNTUK MEMBEBASKAN
Kisah Para Rasul 5: 20
Pergilah, berdirilah di bait Allah dan beritakanlah firman hidup itu kepada orang banyak
Sandra Woworuntu adalah salah satu korban human trafficking yang berhasil selamat. Seorang pria bernama Eddy yang memberinya makanan ketika mengemis,menolongnya melapor ke FBI. Itulah awal pembebasan Sandra setelah 3 tahun menjadi pekerja seks komersil di Chicago. Kini, sejak ia bebas tahun 2004, ia bekerjasama dengan pemerintah Amerika untuk menghasilkan berbagai keputusan dan regulasi yang diharapkan dapat meminimalisir kasus human trafficiking di Amerika.
Ayat Alkitab di atas merupakan kutipan dari kisah pembebasan para rasul yang dipenjarakan oleh imam besar di Yerusalem. Jelas bahwa peristiwa pembebasan ini ada dalam skenario Tuhan yang menghendakiagar firman hidup itu terus diberitakan. Tuhan tidak sekedar membebaskan tetapi memberi mandat bagi mereka yang telah dibebaskan untuk juga membebaskan orang lain. Para rasul dibebaskan agar mereka membebaskan umat Tuhan dari ketidaktahuan akan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Sandra dibebaskan agar ia menjadi pelopor bagi pencegahan munculnya kasus human trafficking di Amerika dan seluruh dunia yang membaca kisahnya.
Pengalaman kita masing-masing membuktikan bahwa Tuhan juga pernah membebaskan kita dari berbagai hal. Ada maksud Tuhan ketika sesuatu terjadi jika kita berusaha mencari jalan keluar bersama Tuhan, Sang Pembebas itu. Jika kita memaknai dengan benar makna hidup ini dan setiap pengalaman yang kita alami maka kita akan menemukan bahwa ada sesuatu di balik skenario Tuhan ini. Terkadang yang Ia lakukan adalah di batas kewajaran manusia namun membuahkan hasil yang berguna bagi banyak orang. Bukan berarti bahwa kasus Sandra patut kita tiru dengan menjadi pekerja seks komersil teapi yang dimaksudkan ayat Firman Tuhan hari ini adalah memahami segala yang terjadi dalam hidup kita, mencari jalan keluar bersama Tuhan dan mebjadi saksi atas kebaikan-Nya.Pengalaman ini membuktikan bahwa Tuhan tidak membiarkan kita ditawan oleh berbagai kesulitan hidup selamanya.

Pertanyaan Refleksi:
Sudahkah kita memahami skenario Tuhan dalam pembebasan itu?

Doa:
Ya Tuhan, terimakasih karena Engkau telah membebaskan kami. Kini, mampukan kami untuk membebaskan orang lain agar hidup kami sesuai skenario-Mu. Amin

Senin, 05 September 2016

TERBEBAS DARI DOSA
Yesaya 61:1b
Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara

Pembebasan yang dilakukan Tuhan bagi orang-orang percaya adalah membebaskan dari belenggu dosa. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menegaskan bahwa semua manusia adalah orang yang berdosa. “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” (Roma 3:10). Karena semua orang telah berbuat dosa, mereka pun kehilangan kemuliaan Allah.
Namun ada kabar sukacita: setiap orang yang mau datang kepada Tuhan dengan pertobatan yang sungguh akan diampuni dan dipulihkan-Nya. Artinya Tuhan selalu memberi kesempatan kepada setiap orang mengalami pembebasan dari belenggu dosa. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9).” Tangan Tuhan selalu terbuka untuk menyambut kita karena Dia rindu kita memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa, karena sekian lama terpisah jauh karena dosa dan pelanggaran kita, sama seperti yang dilakukan oleh bapa kepada anak yang terhilang. Ketika anak itu kembali kepada bapanya, bapa memberikan 3 hal kepada anaknya itu: jubah, cincin dan kasut.
Jubah adalah lambang kebenaran dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus (Roma 3:24). Cincin adalah lambang otoritas. Karena Kristus, kita memiliki otoritas untuk menjadi orang-orang yang berhasil, berkemenangan dan berkelimpahan. Kasut adalah gambaran bahwa setiap kita yang ada di dalam Kristus tidak lagi menjadi budak atau hamba dosa, melainkan “…telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran (Roma 6:18). Status kita bukan lagi orang-orang yang terjajah oleh iblis tetapi orang-orang yang merdeka. “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka (Yohanes 8:36).”Pengampunan tersedia bagi setiap orang yang mau mengakui dosanya dan bertobat, mereka akan menerima pembebasan melalui darah Kristus!

Pertanyaan Refleksi:
Apakah aku pantas menyakiti-Nya setelah yang aku dapatkan adalah keselamatan?

Doa:
Ya Tuhan, aku mohon ampunilah aku. Amin

Minggu, 04 September 2016

HIDUP DAMAI
Kejadian 12: 18
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu,
hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
Ishak hidup di tengah-tengah orang Filistin yang ternyata merupakan tetangga yang jahat. Di sana ia menjadi orang yang sangat kaya dan berkuasa sehingga mereka takut kepadanya dan memintanya untuk meninggalkan daerah mereka. Sebagai seseorang yang “jauh lebih berkuasa” dari mereka (Kejadian 26:16), Ishak sebenarnya bisa menolak permintaan mereka, namun sebaliknya ia justru mengalah dan pindah ke lembah terdekat di mana Abraham, ayahnya, telah menggali beberapa sumur bertahun-tahun yang lalu. Orang-orang Filistin telah menutup sumur-sumur itu setelah Abraham mati. Dan setiap kali Ishak menggali kembali salah satu sumur, mereka menyatakannya sebagai milik mereka, walaupun mereka tidak pernah menggunakannya. Mereka hanya senang bertengkar. Namun, Ishak terus berpindah tempat sampai ia memasuki daerah di mana orang Filistin tidak lagi menentang haknya atas sumber air yang ada di situ.
Saya pun pernah menjumpai orang-orang semacam itu. Saat bermain tangkap-bola dengan saudara lelaki saya ketika masih kecil, kami harus sangat berhati-hati saat melemparkan bola, karena tetangga kami akan menyita setiap bola yang jatuh di halamannya. Memang sulit menyukai orang-orang semacam itu, namun Yesus mengatakan bahwa kita harus mengasihi, mendoakan, dan bersikap baik terhadap mereka (Matius 5:44). Hal itu mungkin tidak mudah, dan orang jahat tersebut mungkin tidak mau berubah. Namun, menurut Roma 12:18 kita harus tetap mengusahakan segala hal untuk dapat hidup damai dengan semua orang —Herb Vander Lugt
Apa keuntungan hidup damai dengan semua orang? Kita akan merasakan betapa damainya hati kita karena ketika kita tidak memiliki relasi yang baik dengan orang-orang di sekitar kita maka hati kita akan terbebani dan beban itu akan nampak dalam perbuatan, perkataan dan pikiran kita. oleh karena itu, Allah ingin kita hidup berdamai dengan semua orang agar hidup kita pun bebas dan pulih.

Pertanyaan Refleksi:
Di tahun pembebasan ini, maukah kita menghapuskan segala kesalahan orang lain dan hidup berdamai dengan mereka?

Doa:
Ya Tuhan, banyak hal yang Engkau tahu tentang hidupku dan caraku bergaul. Bentuklah aku menjadi agen perdamaian. Amin

Sabtu, 03 September 2016

TAHUN YOBEL ADALAH TAHUN PEMBEBASAN
Mazmur 32: 8
Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh;
Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu

Mata Tuhan senantiasa tertuju kepada kita. Dia mau mengajar, mau menasehati, Dia mau menuntun kita dan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh. Ada berapa banyak di antara saudara yang merayakan tahun Yobel dan tetap memerlukan tuntunan Tuhan yang seperti itu? Ada berapa banyak yang mau dituntun, dinasehati dan diajar? Saudara, kita bisa mengerti kalau ini Tuhan yang mengajar, ini Tuhan yang menasehati, ini tuntunan Tuhan; jalan mana yang harus kita tempuh. Itu semua hanya bisa terjadi kalau mata kita senantiasa tertuju kepada Dia. Kalau saudara membaca dari Mazmur 123:2 disitu dikatakan, “Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.”
Saya percaya tahun pembebasan seutuhnya akan membawa penuaian jiwa besar-besaran. Bayangkan, kalau Tuhan mau membebaskan manusia dari segala macam yang tidak baik menjadi baik, maka akan banyak orang yang diselamatkan. Itu adalah doa saya dan hari-hari ini kita justru sedang memasuki masa penuaian jiwa besar-besaran. Ini adalah yang terbesar dan juga adalah yang terakhir sebelum Tuhan Yesus datang untuk yang kedua kalinya. Dan saya sangat yakin bahwa hari-hari ini kedatangan Tuhan Yesus sudah sangat…sangat…sangat dekat! Ayo kita mempersiapkan diri! Dan karena hari-hari ini kita sedang berada di masa penuaian jiwa besar-besaran, saya mau mengajak saudara untuk ikut serta dalam penuaian jiwa besar-besaran ini.
Orang Kristen yang memasuki tahun Yobel tanpa dibimbing Tuhan, tanpa berjalan bersama-sama Tuhan setiap hari, setiap saat, setiap langkah dalam hidupnya, itu bukanlah orang percaya. Namanya saja orang percaya tetapi sesungguhnya bukan orang percaya. Disini jelas bahwa yang membedakan kita dengan orang-orang yang belum percaya adalah karena Tuhan berjalan bersama-sama dengan kita dan membimbing kita.

Pertanyaan Refleksi:
Aku tahu bahwa aku telah dibebaskan dan dipulihkan. Apakah aku akan bermegah diri tanpa bergantung pada Tuhan? ataukah aku mau tetap bergantung pada-Nya?

Doa:
Tuhan, berjalanlah bersama-sama dengan aku. Bimbing aku, Tuhan. Aku tidak bisa berjalan dalam kebebasan dan kemenangan jika Tuhan tidak beserta dengan aku. Amin

Jumat, 02 September 2016

JANJI PEMBEBASAN TUHAN
Mazmur 49:16
Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati,
sebab Ia akan menarik aku

Dalam Lukas 24:51 dikatakan bahwa ketika Yesus naik ke sorga, Dia tidak pergi meninggalkan murid-murid-Nya begitu saja, tetapi Ia dalam posisi memberkati umat-Nya sebagai bukti kepedulian dan kasih-Nya yang besar kepada umat. “Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kisah Para Rasul 1:11), artinya Tuhan Yesus yang naik ke sorga suatu saat kelak pasti akan datang kembali untuk keduakalinya menjemput umat-Nya dan sebagai umat Tuhan kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut kedatangan-Nya itu karena siap atau tidak siap Dia pasti akan datang kembali.
Alkitab menyatakan bahwa ketika Yesus naik ke sorga Ia tidak hanya memberkati, tetapi juga “… membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” (Efesus 4:8). Makna rohaninya adalah Tuhan akan melepaskan dan membebaskan umat-Nya dari segala belenggu yang selama ini mengikat dan menindas kehidupan mereka dan membawa mereka kepada kehidupan yang dipulihkan dan berkemenangan, sehingga semua tawanan mendapatkan kebebasan atau kelepasan dari ketertawanannya, “sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan para tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh,” (Mazmur 102:21). Dari situ dapat disimpulkan bahwa yang menjadi dasar pelayananan Tuhan Yesus adalah kasih, karena Dia “… datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45).
Melalui pelayanan Yesus, orang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan, yang kusta menjadi tahir, yang tuli dapat mendengar, bahkan yang mati dibangkitkan-Nya. Kedatangan-Nya benar-benar untuk menyelamatkan dan membebaskan setiap orang yang mau berdamai dalam nama-Nya. Inilah yang seharusnya juga menjadi dasar pelayanan kita yaitu kasih kepada jiwa-jiwa yang tersesat dan membebaskan mereka dari segala keterikatan yang menghancurkan.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah pelayanan yang aku lakukan hingga saat ini sudah membebaskan diriku dan orang lain ataukah aku masih menindas diriku dan orang lain?

Doa:
Ya Tuhan, berilah aku kebijaksanaan agar aku dapat melakukan pelayanan bersama-Mu sebagai teladanku. Amin

Kamis, 01 September 2016

SUKACITA DI TAHUN YOBEL
Imamat 25:11
Tahun yang kelima puluh itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, jangan kamu menabur, dan apa yang tumbuh sendiri dalam tahun itu jangan kamu tuai, dan pokok anggur yang tidak dirantingi jangan kamu petik buahnya

Kita sering mendengar pujian “Tahun Yobel” adalah tahun pembebasan. Pujian ini bukanlah sebuah pujian belaka namun memiliki arti yang sangat dalam untuk diterapkan dalam kehidupan bersama.Kata Yobel sendiri mempunyai arti tanduk domba jantan yang dapat dijabarkan dengan istilah ‘yubileum’ menjadi satu arti dengan sangkakala. Ada tiga ciri khas yang menandai tahun Yobel, yang tibanya setiap 50 tahun, yaitu: (1) semua budak Israel harus dibebaskan, (2) semua harta warisan yang dijual harus dikembalikan kepada keluarga yang semula, dan (3) tanah tidak boleh digarap. Maksud Allah dengan menetapkan tahun Yobel ini ialah menjamin keadilan dan menjaga agar golongan kaya tidak mengumpulkan kekayaan dan tanah dengan mengorbankan golongan lemah. Jadi, betapa gembiranya para budak dan orang-orang yang berutang bahwa mereka akan dibebaskan pada tahun Yobel tersebut. Bagi para pemilik tanah yang terlanjur menggadaikan tanahnya karena hutang, dapat memiliki tanah itu kembali pada tahun Yobel, sebab semua tanah adalah milik Allah (Imamat 25:23).
Dari penjelasan diatas kita dapat menangkap bahwa nats ini membicarakan berkat dan pembebasan dari Tuhan. Tuhan telah mengatur bagaimana umat Israel mengelola tanah dan menikmati berkat dari tanah tersebut. Disamping itu pula Allah ingin supaya kita menghargai tanah dan tidak menjadi orang yang tamak terhadap tanah tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui, pada masa kini ada banyak manusia yang tidak menghargai tanah dan tumbuhan di atasnya. Manusia selalu ingin menikmati hasil tanah tersebut tanpa menjaga ekosistem yang ada. Alhasil, kerusakan ekosistempun terjadi akibat ketamakan dan tidak bertanggung jawabnya manusia dalam mengelola tanah dan tumbuhan di atasnya.
Mari lewat nats ini, kita mengikis ketamakan dan peduli terhadap alam serta sesama, sehingga Tahun Sabat dan Tahun Yobel akan memberi makna baru dalam keberadaan kita masing-masing.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah aku tamak? Refleksikanlah!
Doa:
Ya Tuhan, kami mohon penyertaan-Mu agar kami memiliki batasan dalam mengusahakan alam ini agar kami tidak menjadi manusia yang tamak. Amin

Rabu, 31 Agustus 2016

MENERIMA MAHKOTA KEMENANGAN
I Petrus 1:3-4
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu”.
Mahkota adalah lambang kehormatan atau kemenangan yang dapat diperoleh setelah memenangkan sebuah pertandingan. Ada juga mahkota yang diperoleh seseorang ketika disahkan menjadi pemimpin misalnya Ratu Elizabeth di Inggris, Raja Daud di Perjanjian Lama, tetapi mahkota kehidupan yang dimaksud pada tema ini adalah anugerah Tuhan bagi umat-Nya yang menang. Jika di dalam dunia ada kesalahan mengenai pemberian mahkota, kita tidak akan menjumpai kesalahan tersebut dalam maksud Tuhan. Mahkota kehidupan itu bersifat abadi dan karena yang menganugerahkannya adalah Tuhan maka tentu Ia mengenal siapa di antara umat-Nya yang layak mendapatkannya.
Surat Petrus adalah surat edaran bagi umat Kristen yang terancam hidupnya karena dicurigai sebagai masyarakat yang anti-sosial dan memiliki dewa lain selain dewa yang disembah masyarakat asli. Surat ini ditulis dengan maksud agar orang-orang Kristen yang dianiaya dibawah pemerintahan Nero terus berpengharapan kepada Tuhan dan tidak terpengaruh atas rayuan dewa-dewa setempat serta melakukan rupa-rupa dosa sehingga dengan demikian mereka dapat memperoleh kebebasan yang dilambangkan dengan mahkota kemenangan.
Mahkota kehidupan diberikan kepada mereka yang telah dilahirkan kembali. Ciri orang yang telah dilahirkan kembali adalah orang tersebut telah mengalami pemulihan. Kata pemulihan ini menunjuk pada perubahan menyeluruh secara terpadu, tidak bisa separuh-separuh melainkan harus totalitas. Kita dapat dilahirkan kembali, mengalami perubahan total dalam hidup kita, menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah jika kita mau membuka hati dan pikiran kita untuk menerima firman-Nya. Hadiah utama yang dijanjikan bagi pengikut Kristus yang setia adalah mahkota kehidupan dan orang yang memperoleh mahkota kehidupan itu memperoleh akses selama-lamanya bersama Allah.

Pertanyaan Refleksi:
Siapkah kita sehingga Allah menawarkan mahkota kemenangan itu? Maukah kita bekerjasama dengan-Nya untuk memperoleh mahkota kemenangan itu?
Doa:
Ya Tuhan, mampukan kami untuk selalu menjadi pengikut-Mu yang setia. Amin

Selasa, 30 Agustus 2016

SUMBER BERKAT BUKAN PENGEJAR NIKMAT
Amsal 10:16
Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa
Ada beragam pandangan tentang arti hidup serta tujuannya. Ada yang memilikitujuan untuk mencari ketenangan, bukan tentang materi saja, yang penting tenang, damai dan sejahtera. Ada yang hidup untuk mencari banyak teman, pergaulan, pelayanan kepada sesama. Ada yang beranggapan bahwa hidup adalah tentang waktu muda yang digunakan untuk bekerja dan mencari nafkah, senang bersoasialisasi, gila kerja sampai anak-anak dibawa ke kantor. Ada yang berpendapat bahwa ketika usia senja, kita tidak memiliki waktu untuk bekerja dan mengeksplor diri kita, sehingga ketika masih muda kita perlu mencari kenikmatan, mencari hal yang berbau duniawi. Ada pula yang mengatakan bahwa hidup adalah pengalaman yang luar biasa untuk mencari kehendak Tuhan melalui diri sendiri, orang lain dan juga dari alam sehingga masa hidupnya dapat digunakan untuk menjadi berkat. Manakah makna hidup dan apa tujuan hidup saudara? Yang pasti, kita harus menjadi berkat di masa muda maupun masa tua kita.
Ada perasaan sukacita ketika menjadi berkat bagi sesama. Suatu ketika, saya menjadi pendamping orang-orang yang mengalami masalah. Ketika saya mendengar keluh kesah mereka, mendoakan dan membantu mereka untuk menemukan jalan keluar sendiri, ada sukacita tersendiri yang saya alami. Saya merasa ada berkat yang patut saya bagikan kepada orang lain.
Kedua pandangan tentang makna hidup dan tujuannya yang telah saya jabarkan di atas sangat menarik perhatian kita karena hal ini mungkin terjadi dalam sebagian kehidupan kita.Bagian Amsal yang kita baca pada saat ini menegaskan bahwa kenikmatan itu sifatnya sederhana dan cenderung membawa kepada dosa, akan tetapi menjadi berkat bagi sesama akan membawa kehidupan baru yang menyukacitakan.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah kita masih menjadi manusia yang hanya mengejar kenikmatan saja?

Doa:
Biarlah kami menjadi berkat bagi sesama kami. Amin

Senin, 29 Agustus 2016

JANGANLAH HENDAKNYA KERAJINANMU KENDOR
Roma 12:11
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala
dan layanilah Tuhan

Menurut Rudyard Kipling, adaenam pertanyaan penting untuk menganalisa sebuah masalah yang disingkat dengan rumus 5 W + 1 H (What, Where, When, Which, Who + How). Sebagai contoh apabila kita bercerita kepada teman kita bahwa ada kecelakaan di jalan saat kita berangkat ke kantor. Kemudian teman kita akan bertanya? Dimana? Jam berapa? Siapa yang menjadi korban? Pertanyaan itulah yang disingkat dengan lima 5W dan untuk mengorek informasi lebih dalam maka teman kita akan bertanya mengapa bisa terjadi kecelakaan? Dan pertanyaan itulah yang disingkat H atau how.
Hari ini, kita hanya membaca satu ayat dari total 433 ayat di dalam kitab Roma yang di kelompokkan ke dalam 16 pasal. Ketika membaca ayat yang tidak lagi asing ini maka kita akan bertanya: Mengapa? Mengapa Paulus menulis demikian? Kata janganlah merupakan larangan atau peringatan yang sangat tegas. Hal ini berarti Paulus mau menegaskan bahwa ketekunan, kerajinan dan semangat tidak boleh padam karena roh yang meyala-nyala diibaratkan sebagai suatu keinginan yang membara, sangat kuat, sungguh-sungguh dan sangat antusias.
Tuhan menjadikan kita semua dilengkapi dengan emosi untuk memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap sesuatu yang menjadi talenta kita. Dengan mempersembahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan adalah satu-satunya respon yang diminta sekaligus yang berkenan kepada Tuhan dari kita. Ia mengingatkan kita bahwa hidup kita haruslah menjadi milik Tuhan sehingga tidak pantas bila kita menjadi malas dalam kehidupan ini. Iman kita mengajarkan kepada kita bahwa kita telah diselamatkan hanya oleh karena pengorbanan Kristus, bukan kebaikan kita maka saat ini kita dituntut untuk merespon dengan memberikan totalitas hidup kita, khususnya sebagai sivitas akademika UKSW.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah saya masih bersikap malas dalam menjalankan tanggungjawab pelayanan dariNya?

Doa:
Jadikan hamba-hamba-Mu ini sebagai hamba yang selalu menyatakan sikap hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Amin

Minggu, 28 Agustus 2016

BERHENTI SEJENAK
Keluaran 20:8
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat

Sabat adalah sebuah kata yang berarti perhentian. Jadi, Sabat merupakan hari perhentian yang sangat penting bagi kehidupan orang Israel, dikukuhkan oleh perhentian kerja Allah sendiri dalam karya penciptaan. Hari Sabat dalam tradisi Yahudi adalah hari ketujuh dan dihitung sejak jumat petang hingga sabtu petang, tidak ada kegiatan atau pekerjaan yang boleh dilakukan selain beribadah kepada Tuhan. Apa makna esensial dari kegiatan ini? Tuhan menghendaki umat-Nya untuk berhenti sejenak, menarik diri dari kesibukan rutinitas yang selama enam hari dilakukan. Selain hari Sabat, ada pula tradisi tahun Sabat yang dilaksanakan tujuh tahun sekali. Apabila tujuh tahun Sabat telah dilakukan maka tahun ke delapan itulah yang disebut tahun Yobel (pembebasan). Semuanya dibebaskan dan mendapat keadilan serta penebusan.
Tahun Yobel bukanlah sekedar tahun Yobel yang dirayakan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, tetapi makna tahun Yobel yang adalah tahun pembebasan dan penebusan yang dapat kita lakukan setiap tahun bahkan setiap hari karena keselamatan dan penebusan telah kita terima melaui kematian Yesus Kristus. Saat ada perhentian maka kita dapat gunakan perhentian itu untuk merefleksikan kasih Tuhan dan merelaksasi tubuh serta membiarkan alam beristirahat. Itulah keadilan, adil bagi semua pihak terlebih Tuhan.
Melalui ayat ini kita diingatkan untuk menempatkan Tuhan di tempat yang terutama dalam segala aspek kehidupan kita bukan menjadi yang kedua, ketiga, keempat dan selanjutnya. Sesibuk apapun aktifitas yang dijalani, hendaknya kita berhenti sejenak dan tidak diperbudak oleh pekerjaan atau tugas sehingga kita melupakan-Nya. Hendaknya kita senantiasa mengawali dan mengakhiri seluruh rutinitas sepekan bersama Tuhan.

Pertanyaan Refleksi:
Sudahkah kita menempatkan Tuhan di tempat yang terutama dalam diri kita?

Doa:
Mampukan kami Ya Tuhan agar senantiasa menempatkan Engkau yang terutama dalam kehidupan ini. Amin!