Program studi Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar ujian terbuka pada Jumat (26/3) lalu.  Dalam ujian yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Interdisiplin Titi S. Prabawa, Ph.D., promovenda Jeanee Belthia Nikijuluw berhasil mempertahankan disertasinya dengan judul “Cengkeh Tanpa Aroma: Strategi Bertahan Hidup di Negeri Ullath” dan meraih predikat cumlaude atau terpuji. 

Bertindak sebagai penguji dalam ujian terbuka kemarin adalah Aldi H. Lasso, Ph.D dan Dr. Gatot Sasongko keduanya dari UKSW, serta Dr. Piet J. Pelupessy dari Universitas Pattimura. Sebagai Promotor adalah Titi S. Prabawa, Ph.D., Ko-promotor Dr. Simon Pieter Soegijono dari Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan Ko-promotor Dr. Wilson M.A. Therik dari UKSW. Ujian terbuka tersebut juga dihadiri oleh Rektor Universitas Pattimura Prof. Dr. M.J. Sapteno, S.H., M.Hum. 

Promovenda Jeanee Belthia Nikijuluw dalam paparannya mengungkapkan penelitian lapangan di Negeri Ullath, Maluku Tengah dilakukannya sejak Juni 2017 hingga Desember 2018. Masyarakat Negeri Ullath yang pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani cengkeh menjadi alasan daerah pesisir ini dipilih sebagai lokasi penelitian. 

Tanaman cengkeh pernah menjadi tanaman unggulan dalam kehidupan rumah tangga petani Negeri Ullath sehingga dijadikan sumber nafkah utama. Namun saat ini tanaman tersebut secara perlahan mulai terabaikan. Hal ini disebabkan karena rumah tangga telah menekuni pekerjaan tipar mayang sebagai sumber mata pencaharian yang dipandang lebih menguntungkan, jika dibandingkan menjadi petani cengkeh.  

“Studi tentang “cengkeh tanpa aroma”, telah membuktikan tentang sebuah kisah yang terjadi dikalangan petani di Negeri Ullath. Terjadinya tranformasi livelihood berdampak pada unsustainability tanaman cengkeh. Secara substantif, studi ini menggunakan pendekatan mata pencaharian berkelanjutan. Mata pencaharian dinyatakan berkelanjutan ketika mampu merespon perubahan dengan beragam strategi adaptif, untuk bangkit dari tekanan dan kejutan,” terang Jeanee Belthia Nikijuluw.  

Penelitian lanjutan 

Lebih lanjut disampaikannya, terjadinya peralihan mata pencaharian ke tipar mayang adalah bentuk strategi ‘jang sampe tagala kosong” agar rumah tangga tetap survive dan ada keberlanjutan mata pencaharian.  Kasus rumah tangga petani di Negeri Ullath yang menjadi representasi peralihan mata pencaharian tidak dapat digeneralisasi di semua wilayah kepulauan Lease maupun Maluku yang bermata pencaharian sebagai petani Cengkeh. 

“Oleh karena yang terjadi di Negeri Ullath  belum tentu terjadi di negeri-negeri lain. Untuk itu, membutuhkan penelitian lanjutan dengan melakukan pendekatan studi komparasi sehingga memperkaya kajian-kajian livelihood di daerah pedesaan,” imbuhnya. 

Diakhir presentasinya, promovenda Jeanee Belthia Nikijuluw menyebut temuan penelitiannya  mengungkap implikasi teoretis terkait dengan keberlanjutan mata pencaharian. 

“Bahwa terjadinya peralihan mata pencaharian dikalangan petani Negeri Ullath tidak saja dilaterbelakangi oleh faktor ekonomi, melainkan juga faktor budaya. Peralihan mata pencaharian tersebut turut ditunjang oleh kearifan lokal peramu mayang masyarakat setempat. Namun, hasil produksi dari tipar mayang dalam bentuk sopi atau minuman tradisional khas Maluku menjadi tantangan tersendiri bagi rumah tangga, karena produk tersebut belum mendapat legalisasi dari pemerintah. Untuk itu, diharapkan pemangku kebijakan dapat menyusun regulasi terhadap produk sopi,” pungkasnya.