Pandemi Covid-19 di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia berdampak buruk bagi sistem perekonomian masyarakat yang mengarah pada kurangnya kebutuhan pangan. Jumlah pangan yang semakin berkurang dipredikasi akan menyebabkan berkurangnya asupan makanan, penurunan status gizi dan kesehatan, sampai dengan terjadinya kelaparan.

Menanggapi topik ini, Himpunan Mahasiswa Program Studi Gizi (HMP GIzi) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar webinar bertajuk “Peran Akademisi Gizi dalam Menghadapi 'Hunger Pandemi' Akibat Covid-19”, belum lama ini.  

Theresia Pratiwi Elingsetyo Sanubari, S.Si, M.Kes Ketua program studi Gizi UKSW mengupas  kasus dan dampak kelaparan akibat covid-19. Dikatakannya, sedikitnya 821 juta orang atau  1 dari 9 populasi dunia tidak cukup makan menurut world food program tahun 2019. Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut Theresia, ada berbagai faktor yang ikut mempengaruhi terjadinya kelaparan, antara lain adanya perubahan pola makan dan kenaikan harga, perubahan iklim, terjadinya   bencana seperti gempa bumi dan banjir yang mengakibatkan kerawanan pangan dan juga penerapan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB).

Lebih lanjut, Theresia mengatakan dalam Analisa McKibbin dan Fernando, jika Indonesia tidak menyelesaikan permasalahan dalam mengatur supply makanan dan tetap mengandalkan import, pada tahun 2022 negara ini akan merasakan peningkatan import.   

“Jika harga naik maka semua sektor akan merasakan dampaknya. Harga pangan naik akan mempengaruhi krisis pangan dan mengakibatkan kelaparan sehingga nutrisi tidak terpenuhi yang dapat mengakibatkan kesehatan masyarakat menurun. Hal tersebut memunculkan bentuk solidaritas dari individu maupun kelompok seperti memberikan sembako, alat kesehatan dan uang tunai yang berguna. Akan tetapi, jangan sampai kita juga terlena akan bentuk solidaritas yang ada, karena berpengaruh akan keberlanjutan kehidupan kita,” terang Theresia.

Selain Theresiana, dalam webinar yang menggunakan aplikasi zoom meeting, menghadirkan Dosen Gizi Universitas Jendral Soedirman sebagai narasumber. Dalam kesempatan kali ini narasumber kedua mengangkat kajian mengenai peran akademisi gizi kepada masyarakat dalam menghadapi hunger pandemi.

“Menurunnya angka pertumbuhan ekonomi diberbagai negara, meningkatnya PHK, menurunnya penghasilan masyarakat menengah ke bawah yang berisiko terhadap akses pangan dan gizi masyarakat ini membutuhkan peran kita sebagai akademisi gizi,” terang Teguh yang juga Pengurus DPP Persagi dan sekretaris III AIPGI.

Lainnya, dikatakan oleh Teguh, para akademisi memiliki peran dan tugas pokok yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan upaya pencegahan dan penanganan covid 19 melalui perbaikan gizi dan melakukan inovasi pengembangan produk pangan yang meningkatkan imunitas sehingga dapat mengedukasi masyarakat melalui media sosial maupun media elektronik.

Tantangan dan Peluang

Mengedukasi masyarakat melalui media sosial dan elektronik dikatakan Teguh memiliki tantangan dan peluang tersendiri. Tantangan yang dihadapi antara lain seperti kurang percaya diri dalam berbagi pengalaman, masih malu dalam personal branding, sulit untuk beradaptasi dengan teknologi. Selain itu, banyaknya hoax yang bertebaran, persaingan dari profesi yang lain, bukan berlatar belakang orang gizi, dan tidak mudah menyesuaikan protokol kesehatan.

“Akan tetapi, disisi lain, memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi gizi juga peluangnya besar; menjadi influencer gizi dan kesehatan salah satunya. Tak hanya itu, media sosial dapat menjadi personal branding ahli gizi dalam menyampaikan pesan-pesan gizi dan kesehatan kepada masyarakat,” tambahnya.

Kedua pemapar menutup materi dengan mengatakan bahwa edukasi dalam pemahaman tentang gizi akan pangan perlu dibagikan kepada masyarakat agar masyarakat dapat menjaga kesehatannya.