Meraih akreditasi A empat kali berturut-turut menjadi prestasi yang ditorehkan Program studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Keputusan tersebut berdasar surat keputusan (SK) BAN PT Nomor 964/SK/BAN-PT/Ak-PPJ/S/II/2021 yang diterima oleh prodi BK baru-baru ini.

Raihan tersebut tidak lantas membuat prodi yang berdiri sejak tahun 1 Juni 1966  ini berpuas diri. Prodi BK UKSW yang  saat ini memiliki dua konsentrasi utama yaitu konsentrasi pendidikan dan konsentrasi industri berharap dapat terus mempertahankan hasil akreditasi.

“Keberhasilan ini adalah hasil sinergi seluruh sivitas akademika, baik mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, para pemangku kepentingan, serta tim penjaminan mutu pada level fakultas dan universitas yang sangat membantu dalam mengevaluasi kinerja. Tentu masih banyak aspek yang  harus ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas,” tutur kaprodi BK Setyorini, M.Pd. 

Mempertahankan akreditasi A menurutnya merupakan komitmen dan kewajiban bagi prodi BK. Salah satu kunci dalam mempertahankan akreditasi dikatakan Setyorini yang berprofesi sebagai pengajar sejak 15 tahun silam tersebut adalah mempertahankan kinerja sesuai dengan standar yang ada.

Beri kualitas terbaik

Kunci lain dalam mempertahankan akreditasi dituturkan Setyorini yakni dengan memberikan kualitas layanan semaksimal mungkin kepada customer, dalam hal ini adalah mahasiswa, alumni, orang tua mahasiswa, dan pengguna lulusan.

“Target kami selanjutnya adalah  menuju akreditasi unggul dengan memenuhi 9 standar baru. Berbagai upaya akan terus kami lakukan diantaranya meningkatkan jumlah dan kualitas calon mahasiswa baru. Sementara bagi dosen akan dilakukan peningkatan jumlah publikasi ilmiah baik nasional maupun internasional, peningkatan JAFA, studi lanjut, rekrutmen, peningkatan kualitas pengajaran, penelitian hingga pengabdian kepada masyarakat. Selain itu Progdi BK akan mulai menerapkan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka,” imbuhnya.

Adapun di masa pandemi Covid-19 Setyorini menyebut proses belajar mengajar tidak mengalami hambatan. Hal ini dikarenakan beberapa dosen telah terbiasa menerapkan sistem pembelajaran blended learning. Sebagai upaya guna menjaga kualitas, pembelajaran tetap mengacu pada Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang ada dimana implementasinya dilakukan dengan penyesuaian  kondisi pandemi Covid-19.

Menurut wanita kelahiran tahun 1975 ini, berbagai platform daring selain digunakan untuk pembelajaran juga dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Bahkan diakuinya metode daring dapat menjangkau lebih banyak kalangan dibanding sebelumnya. Tantangan ke depan dikatakannya adalah bagaimana memaksimalkan fasilitas yang dimiliki masing – masing platform layanan daring dengan tetap memperhatikan efektivitas pembelajaran.