Tiga esensi buku Mindfulness-Based Business (MBB) dan penerapannya dalam dunia bisnis dipaparkan oleh penulis Dr. (HC) Sudhamek AWS, S.E., S.H., pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Jumat (29/1) malam. Ketiga esensi tersebut adalah paradigma, inisiatif kunci membangun MBB dan juga metode membangun sumber daya manusia yang dilakukan dengan metode hening.

 

Dalam paparannya, Dr. (HC) Sudhamek AWS, S.E., S.H., mengungkap bahwa MBB telah diterapkan di perusahaan yang dipimpinnya selama kurang lebih sembilan belas tahun. Empat inisiatif kunci yang selama ini diterapkannya adalah merumuskan nilai inti perusahaan berbasis spiritualitas, memilih bidang usaha yang sesuai dengan nilai inti, membangun sistem manajemen yang kondusif serta membangun pribadi-pribadi unggul Pancasilais.  Perjalanannya yang memiliki latar belakang unik sebagai aktivis, pengusaha dan pejabat negara, semakin memperkaya isi buku ini. Ia memperlihatkan bahwa mindfulness bisa diterapkan di empat dunia yang berbeda: komunitas bisnis, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi keagamaan dan lintas iman, serta pejabat tinggi negara.

 

“Banyak perusahaan global yang sudah mempraktikkan mindfulness. Pribadi unggul salah satunya bisa dibangun lewat metode latihan hening yang sekarang sudah menjadi industri. Latihan hening dalam aktivitas kerja kita sehari-hari ibarat pulang kampung karena ini kearifan lokal. Dengan melakukan latihan hening, kita bisa mendapatkan pemikiran yang jernih sehingga bisa melihat sesuatu lebih jelas, bisa menghasilkan ide-ide baru,” papar Dr. (HC) Sudhamek AWS, S.E., S.H. yang juga alumnus FEB UKSW ini.

 

“Pada prinsipnya praktik bisnis maupun nonbisnis dengan berbasis kebersadaran agung (mindfulness) adalah bahwa berbisnis, atau berorganisasi, juga menjalankan suatu profesi, bukanlah semata-mata demi menggapai profit atau keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya, tetapi lebih dari itu, yakni demi menumbuhkan benih-benih kebaikan bagi kepentingan bersama,” Bahkan sejatinya bisnis pun berdimensi vertikal karena apa yang diupayakan, pada saatnya, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Mahakuasa. Itulah mengapa saya memberi imbuhan ‘agung’ dalam istilah mindfulness, karena ada dimensi kebersadaran transendental pada Sang Maha Agung,” tambahnya. 

 

Dikatakan Dr. (HC) Sudhamek AWS, S.E., S.H. membangun pribadi yang unggul di Garudafood adalah sebuah keharusan. Selain memiliki mentalitas dasar, penerapan tujuh perilaku kunci dalam pekerjaan juga diukur setiap tahunnya. “Tidak hanya diukur kinerja dan pencapaian targetnya saja tetapi juga diukur apakah menjalankan nilai-nilai perusahaan atau tidak,” imbuhnya.

 

Selain penulis, hadir juga dua pembicara dalam acara “Bedah Buku Karya Sudhamek : Mindfulness-Based Business (Berbisnis dengan Hati)” kemarin. Mereka adalah Albert Kriestian N.A.N, Ph.D dosen FEB dan Bambang Yandoyo Direktur PT Hidup Baru Plasindo & PT Teras Adhi Karisma.

 

Membedah buku MBB dari kacamata praktisi, Bambang Yandoyo mengatakan bahwa perusahaan yang dipimpinnya juga menerapkan hal yang sama. “Saya setuju menerapkan ini, pelatihan bagi karyawan. Pendiri memiliki komitmen core value, pimpinan membangun sistem dan manajemen mendidik karyawan, itu aplikasi di perusahaan kami. Perusahaan kami baru mulai dapat membangun hal ini dan menerapkannya tahun 1997. Dengan hadirnya buku ini kami dikuatkan,” terang Bambang Yandoyo.

 

Sementara itu, dalam ulasan yang disampaikan oleh Albert Kriestian ditekankan bahwa MBB adalah sebuah metodologi untuk mengaitkan eksistensi perusahaan dengan nilai-nilai spiritual. 


 

“Nilai-nilai spiritual diyakini oleh Bapak Sudhamek akan memberikan kemampuan bagi perusahaan untuk bertahan jika diterapkan. Nilai spiritual yang disampaikan disini tidak mengarah pada agama tertentu, melainkan nilai universal yang ada pada setiap agama. Penerapan MBB tersebut adalah proses tanpa akhir yang membutuhkan komitmen, persisten, daya tahan dan konsistensi serta perbaikan terus menerus,” imbuhnya.

 

Perlu dikaji lebih lanjut

 

Dekan FEB UKSW Roos Kities Andadari, S.E., M.B.A., Ph.D. dalam sambutannya menuturkan bahwa sebagai aliran baru dalam manajemen, MBB yang sudah dilakukan Dr. (HC) Sudhamek AWS, S.E., S.H. perlu dikritisi untuk melihat kemungkinan-kemungkinan penerapannya secara lebih luas.

 

“Harapannya dari webinar ini, mahasiswa bisa melakukan penelitian lebih lanjut pada perusahaan lainnya,” katanya.

Senada, Bambang Yandoyo juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, MBB bisa dijadikan bahan penelitian mahasiswa terutama mahasiswa S3.

 

“Selain itu, bagi dosen, MBB dapat menjadi materi yang bagus untuk dimasukkan dalam kuliah seperti tentang pendidikan moral dan bagaimana menerapkan ilmu yang sudah diperoleh sesuai etika. Bagi fakultas, MBB dapat menuntun menjadi lembaga pendidikan mindfulness based faculty yang mencetak sarjana sujana dan mempunyai daya saing kuat,” imbuh Bambang.