Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Pemulihannya pun membutuhkan waktu yang tidak cepat, perlu dua hingga tiga tahun untuk kembali seperti semula. Hal tersebut dengan tegas disampaikan oleh Plt. Deputi Sumber Daya dan Kelembagaan yang sekaligus adalah Staf Ahli Bidang Pengembangan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia Dr. Frans Teguh, MA.

Saat didapuk menjadi salah satu pembicara webinar bertajuk “Prospek Pariwisata Pasca Covid-19”, Rabu (22/7) Dr. Frans Teguh mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk me-recovery sektor pariwisata dan yang tentunya bukan hanya wacana saja.

“Kebijakan yang dilakukan mulai dari mitigasi krisis pariwisata, langkah pemulihan, strategi percepatan pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pada new normal serta strategi pariwisata berkelanjutan,” tuturnya.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Program Studi Destinasi Pariwisata, dimana Program Studi Destinasi Pariwisata Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menjadi tuan rumah, Frans  memandang bahwa di tengah hantaman krisis akibat pandemi Covid-19, peluang ekonomi masih tetap terbuka. 

Namun menurutnya perlu transformasi agar sektor pariwisata kembali dilirik. Salah satunya yaitu perlu peningkatan kompetensi SDM serta strategi ke depan yang meliputi kesadaran terhadap kemampuan literasi digital serta pengetahuan dan sikap untuk menghadirkan SDM yang professional dan unggul.

Terapkan Protokol

Terkait pembukaan kembali sejumlah destinasi pariwisata Frans menyebut harus tetap memperhatikan protokol kesehatan sesuai Kepmen Kesehatan 2020 No.HK.01.07-MENKES-382-2020. Protokol tersebut mengatur agar pengelola destinasi pariwisata memperhatikan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan sehingga terciptanya citra pariwisata yang baik dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Frans, Ketua Forum Komunikasi Kelompok Pariwisata Kabupaten Gianyar sekaligus Ketua Pengelola Desa Wisata Mas, Drs. Mangku Nyoman Kandia, M.Ag. menyampaikan Desa Wisata Mas yang dikelolanya saat ini juga mempersiapkan produknya dengan mengutamakan protokol kesehatan.

“Kami berupaya melakukan promosi secara digital dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan konsumen. Desa Mas yang merupakan singkatan dari Maestro, Adventure dan Spiritual menjadi ciri khas tersendiri dari destinasi pariwisata yang lain,” jelasnya.

Webinar yang diikuti oleh lebih dari 500 peserta ini turut menghadirkan Ketua Prodi Destinasi Pariwisata UKSW Aldi Herindra Lasso, S.Pd., MM.Par, Ph.D sebagai narasumber. Disampaikan Aldi bahwa banyak orang menganggap pariwisata tidak akan bertahan.

Menurutnya pernyataan tersebut tidaklah benar karena pariwisata akan bangkit setelah krisis namun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Akibatnya, terjadinya pergeseran target pasar pariwisata Indonesia yang mengarah ke kualitas dengan penyesuaian premium price high quality tourism product, high spending, long stay, assured safety and security. Ini artinya destinasi pariwisata yang dapat menyediakan aspek tersebut, kebutuhannya akan tinggi.         

Menurut Aldi, bidang pendidikan juga harus mempersiapkan mahasiswa selaku pelaku pariwisata nantinya melalui penguatan keterampilan mahasiswa untuk menjawab kebutuhan pasar. Hal tersebut bertujuan agar tercipta agen perubahan yang melakukan inovasi misalnya melalui penggunaan konten digital, aktivitas wisata, pelayanan, hingga pendekatan daring. 

“Oleh sebab itu perlu perkawinan masal melalui penguatan dengan kolaborasi antar institusi pendidikan vokasi dan antara pendidikan dengan industri,” imbuhnya.

Perdana

Webinar seri perdana yang diprakasai oleh dosen Program Studi Destinasi Pariwisata UKSW Rini Kartika Hudiono S.Pd., MA. Yang juga selaku Ketua Forum Prodi Despar mengatakan forum ini dibentuk sebagai upaya meningkatkan sinergi antara program studi destinasi pariwisata di Indonesia dalam bidang kerja sama serta Tri Dharma Perguruan Tinggi. Rini menyebutkan bahwa topik “Prospek Pariwisata Pasca Covid 19” dipilih sebagai topik pertama untuk menyiapkan pariwisata new era.

“Topik ini dianggap sangat perlu untuk membangkitkan semangat dan membuka wawasan Prodi Despar, mahasiswa, pegiat wisata dan destinasi pariwisata seluruh Indonesia bahwa pariwisata tetap dan pasti memiliki masa depan. Sejarah membuktikan bahwa pariwisata acap berhasil untuk bangkit dari krisis. Bahkan pariwisata dapat mejadi sektor andalan menggantikan sektor minyak dan gas bumi,” jelas Rini.

Webinar dibuka oleh Pembantu Rektor V, UKSW, Dr. Surya Satriya Trihandaru, M.Sc., Nat. Sambutan lain juga diberikan oleh Ketua Umum Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (Hildiktipari), Dr. Suhendroyono, SH., MM. Par., CHE.

Suhendroyono memberikan semangat kepada Prodi Despar karena pariwisata akan kembali booming pasca Covid 19 dan pariwisata akan menjadi pilihan utama. Untuk itu pendidikan vokasi perlu menyiapkan SDM yang unggul untuk menyiapkan global booming  pariwisata, khususnya di bidang destinasi.

Forum Program Destinasi Pariwisata dibentuk dalam Konsorsium Prodi Pariwisata yang diselenggarakan oleh Hildiktipari pada tanggal 14 Februari yang lalu di Denpasar. Forum yang beranggotakan 15 Program Studi Destinasi Pariwisata dan Pariwisata se Indonesia, yaitu UKSW Salatiga, STIEPARI Semarang, Universitas Merdeka Malang, STP Bandung, Poltekpar Bali, STPBI Bali, Poltekpar Makassar, Binus Jakarta, Poltekpar Medan, Universitas Pancasila, UGM Jogyakarta, UNIKA Manado, UNUD Bali, STIPRAM dan AMPTA Jogyakarta.

Antusiasme peserta yang datang dari berbagai institusi dan daerah dalam kegiatan ini sangatlah besar, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diberikan kepada tiga nara sumber dan dipandu dengan sangat baik oleh moderator  Luh Yusni Wiarti, A.Par. M.Par., M. Reach, yang adalah seorang dosen dari Poltekpar Bali. Peserta tidak hanya mahasiswa pariwisata saja, tapi dari prodi lain dan juga pokdarwis, dosen, peneliti, pemandu dan pegiat wisata.