Situasi pandemi yang cukup sulit tentu menimbulkan tekanan di berbagai kalangan, tak terkecuali bagi sebuah perguruan tinggi. Namun berbagai tekanan tersebut harus diatasi, sebab ditengah kondisi sulit tentu masih ada harapan. 

“Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) hadir untuk membantu mahasiswa bahkan masyarakat yang membutuhkan di masa pandemi, hal tersebut membuktikan bahwa ditengah kesulitan yang ada sekalipun, hidup ini masih mempunyai harapan,” terang Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D., saat membuka webinar Mengukir Prestasi di Tengah Pandemi, Jumat (9/10).

Menjadi bermanfaat bagi sesama, menurut Neil dapat menjadi sarana mendatangkan prestasi. Prestasi tak melulu diraih secara muluk-muluk. “Membantu sesama di masa-masa susah seperti ini membuktikan bagaimana kita warga UKSW sangat aware dengan situasi yang ada disekitar kita. Dalam hal ini solidaritas sosial juga harus dapat dibangun, tidak hanya oleh satgas solidaritas, tetapi segenap warga kampus juga terlibat dan terpanggil untuk melakukan tugas-tugas kemanusiaan yang ada,” jelas Neil.

Dengan tegas Neil mengatakan, ketika tindakan-tindakan solidaritas tersebut telah dilakukan maka prestasi akan datang. “Jadi yang paling pertama adalah bagaimana kami memberi diri kami dulu, untuk kemudian hal tersebut akan memberi makna bagi orang lain. Dengan sendirinya orang lain akan memberi makna atas setiap tindakan-tindakan yang kita lakukan tersebut baik melalui penghargaan, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Webinar yang diselenggarakan oleh Yayasan Surya Edukasi Bangsa bersama UKSW dan Media Academy ini bertujuan untuk memotivasi para peserta agar tidak berhenti mengukir prestasi di tengah pandemi. Selain Rektor UKSW yang berkesempatan menyampaikan opening speech, hadir tiga narasumber yakni Pembantu Rektor III UKSW Dr. Andeka Rocky Tanaamah, S.E., M.Cs., CEO Media Group Mirdal Akib, serta Head of Digital Creative Content Medcom.id, Jati Savitri.

Beri respon terbaik

Merespon kondisi pandemi dalam dunia pendidikan yang diharuskan mengalihkan setiap aktivitas belajar mengajar pada pembelajaran daring, apa yang harus dilakukan? Apakah hanya berdiam diri? Pada paparannya Andeka Rocky Tanaamah mengingatkan bahwa pandemi bukan batasan untuk bertumbuh.

“Situasi pandemi yang sedang kita alami jangan kemudian menyebabkan universitas dalam hal ini para mahasiswanya menjadi tidak bisa bertumbuh. Dari situasi ini, bangkitkan kreatifitas-kreatifitas yang ada dalam diri kita. Kita harus melihat peluang bahkan potensi-potensi yang ada untuk mencapai prestasi-prestasi yang terbaik,” ungkapnya.

Tidak lagi melihat pandemi hanya sebagai masalah, Andeka mengajak lebih dari 500 peserta yang tergabung dalam webinar untuk melihat peluang untuk mengembangkan kreatifitas dan potensi pada diri masing-masing peserta. Guna mendukung ajakannya, Andeka menunjukkan capaian-capaian prestasi yang diraih oleh UKSW sebagai universitas maupun mahasiswanya ditengah kondisi pandemi. Sejumlah capaian tersebut membuktikan bahwa pandemi tidak menghalangi prestasi.

Sementara itu, Mirdal Akib menganalogikan kondisi pandemi dengan sistem pada komputer. Semua berada pada kondisi re-start sehingga memiliki posisi dan kesempatan yang sama. Pandemi harus dipandang sebagai peluang.

Kemudian, Mirdal juga mencontohkan tokoh-tokoh pergerakan pada masa lampau. Di tengah keterbatasan dan kepungan penjajah, para pemuda itu bisa membuat Indonesia merdeka.

“Maka itu bisa kita jadikan motivasi untuk berprestasi,” sambungnya.

Adapun terkait banyaknya informasi mengenai pandemi covid19 yang membanjiri jagad sosial media, Jati Savitri mengajak seluruh peserta agar menanggapinya dengan bijak.

Ia mengatakan bawa saat ini banyak informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya sehingga memancing reaksi yang tidak tepat bahkan menimbulkan konotasi negatif. Verifikasi data atau informasi yang diperoleh di media sosial dikatakannya sangat penting sebelum dibagikan pada orang lain.

“Saya berharap sekali kepada generasi muda untuk turut berperan aktif ya, tidak hanya mengandalkan para jurnalis dan fact checker untuk memeriksa data sebelum kita membagikan sebuah berita, tetapi teman-teman dapat memanfaatkan kemudahan teknologi untuk memperbaiki apa yang nampak salah dimasyarakat, salah satunya paling tidak kita harus saring dulu sebelum sharing,” tegasnya. (fly_mg/chis/upk_bpha/foto: fly_mg/chis_bpha).