Belum lama ini, Biro Kerjasama dan Hubungan Internasional (BKHI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar kegiatan bertajuk Pekan Pendidikan Internasional (PPI). Menggandeng sejumlah lembaga seperti AMINEF, British Council, DAAD, Nuffic Neso, Australia Awards, Campus France dan AIESEC; PPI diadakan online melalui zoom meeting dan juga disiarkan melalui youtube BKHI.

Mengupas berbagai hal seputar kuliah di luar negeri, PPI diadakan dalam tujuh sesi menarik dengan menghadirkan dua pembicara di setiap sesinya. Salah satu sesinya adalah Beasiswa dan Studi Lanjut di Prancis yang dipandu oleh Andraine Arkenzi Febreinza dari Campus France Yogyakarta dan Sih Natalia Sukmi, S.Sos., M.I.Kom dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) UKSW yang saat ini tengah menyelesaikan pendidikan doktoral di Sorbonne Universite.

Punya grand goal

Mbak Nat, sapaan akarab Sih Natalia Sukmi, S.Sos., M.I.Kom mengungkap jumlah pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Prancis jumlahnya mengalami kenaikan. Dikatakannya, dengan adanya pandemi Covid-19, persiapan untuk belajar di Prancis tidak jauh berbeda, yaitu melengkapi beberapa dokumen, tes PCR dan formulir kontak. Berbagai persiapan lain yang dilakukan antara lain adalah mencari info sebanyak-banyaknya tentang universitas, beasiswa, membuat proposal riset dan juga mempelajari bahasa. 

“Studi itu bagian dari kehidupan, karena itu perlu ada grand goal yang ingin dicapai ke depan, misalnya karir atau untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Saya sendiri suka belajar dan tidak hanya belajar yang sifatnya informal, karena itulah saya mengambil tantangan studi ke luar negeri. Kenapa hal ini penting? Karena studi itu ada investasi seperti waktu dan juga biaya. Selama studi kita juga akan mengalami pasang surut, kalau kita tidak mempunyai grand goal, teman-teman tidak punya kekuatan untuk melanjutkannya,” terangnya.

Dikatakannya lebih lanjut, belajar di luar negeri mempunyai tantangan tersendiri. Salah satunya adalah bahasa selain juga memproses kita untuk menjadi lebih mandiri. 

Enam negara

Selain sesi Beasiswa dan Studi Lanjut di Prancis, sesi menarik untuk menempuh pendidikan di lima negara lainnya juga dikupas di PPI. Sesi tersebut adalah Beasiswa Fulbright untuk Studi di Amerika Serikat oleh Miftahul Mardiyah (AMINEF) dan Yustinus Calvin Gai Mali, M.Hum., Ph.D Candidate at Washington State University (Dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UKSW), Beasiswa dan Studi Lanjut di Inggris oleh Yuli Vega Tukidjo (Study UK – British Counsil) dan Diane Elizabeth Nuhamara, S.Pd (alumni FBS UKSW - mahasiswa S2 di University of Roehampton), Beasiswa dan Studi Lanjut di Jerman oleh Olivia Sopacua (DAAD Jakarta Office) dan Dr. –Ing. Ivana Timotius, M.S. (Dosen Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer, alumni S3 Friedrich Alexander Universitat), Beasiswa dan Studi Lanjut di Belanda oleh Indy Hardono (Nuffic Neso Indonesia) dan Dina Banjarnahor, M.Sc. (Dosen Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW, Alumni S2 Wageningen University), Beasiswa dan Studi Lanjut di Australia oleh Riyantisa Fikautsara (Australia Awards Indonesia) dan Aurelia Melinda Herka Puspita, S.Pd. (Alumni FBS UKSW, Mahasiswa S2 di University of Melbourne). Sebagai penutup rangkaian juga diadakan acara AISEC Talk “Virtual Road Trip to Vietnam, Cambodia and Poland”.

Direktur BKHI UKSW Debora Natalia Sudjito, SM.Ps.Ed mengungkapkan, PPI diadakan mengingat peminat untuk studi ke luar negeri semakin meningkat. “Mereka membutuhkan support info dan juga jejaring. Karena itulah BKHI mengadakan kegiatan PPI yang juga merupakan kelanjutan dari program yang tahun lalu yang juga diminati banyak peserta. Semoga para peserta kegiatan ini mendapatkan banyak informasi dan juga jejaring untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri,” imbuhnya.