Biro Pengembangan dan Mobilisasi Sumber Daya Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar acara Pencanangan Kampanye 35 Windu Geger Pacinan yang bersamaan dengan 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia dan 8 Windu UKSW, Jumat (24/1). Kegiatan yang digelar di ruang Ds. Tan Ik Hay Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Kampus UKSW Jalan Kartini ini dihadiri Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Pencanangan ditandai dengan penandatanganan canvas oleh sejumlah tokoh, diantaranya Rektor UKSW, Pembantu Rektor IV UKSW Joseph Ernest Mambu, Ph.D, Pembantu Rektor V UKSW Dr. Suryasatriya Trihandaru, Daradjadi penulis buku, Didi Kwartanada dan lainnya.  


Dalam sambutannya, Rektor UKSW menyatakan bahwa kegiatan forum ini diharapkan dapat ikut menjawab pergumulan bangsa. “Kita harus ada dalam spirit yang sama yaitu kita menjadi satu, Indonesia,” imbuhnya.

Dalam diskusi yang dikuti puluhan peserta baik mahasiswa dan juga kalangan lainnya, Didi Kwartanada mengungkap pekerjaan rumah bangsa ini adalah ancaman oleh rasisme, intoleransi dan juga diskriminasi. Disebutkannya, tahun ini adalah momen yang tepat karena bertepatan dengan 35 Windu Geger Pecinan, 75 tahun kemerdekaan Indonesia dan juga 8 windu UKSW.

Dalam kesempatan ini, Daradjadi Gondodiprodjo juga mengapresiasi Jose Amadeus, mahasiswa UKSW yang menciptakan wayang geger pacinan.

Kampanye

Dra. Esthy Susanti Hudiono, M.Si Direktur Biro Pengembangan dan Mobilisasi Sumber Daya UKSW mengungkapkan tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah dan mengisi wawasan dan pelurusan pemahaman sejarah yang terlupakan melalui kajian, pendidikan, dan kampanye pemahaman sejarah kebangsaan Indonesia

“Sepanjang tahun 2020 akan digelar berbagai kegiatan kampanye terkait. Kampanye ini digagas dengan spirit merayakan 75 tahun kemerdekaan Indonesia sebagai titik tolak penghidupan narasi,” ungkapnya.

Guna mendekonstruksi cerita karakter orang Tionghoa dan hubungannya dengan Jawa sebagai dasar nation building, maka UKSW berkolaborasi dengan Mangkunegaran, Daradjadi-penulis buku, Peter Carey-sejarawan, Heri Letho-maestro tari dari Surabaya, Jose Amadeus-pencipta wayang Geger Pacinan dan Dalang, dan banyak nama lain yang sedang dalam koordinasi.

Kampanye akan dilakukan dalam berbagai bentuk. Sebuah lomba bagi guru sejarah baru sedang digagas. Pemenang sebanyak 15 guru akan dibimbing Sejarawan Peter Carey agar mereka mengkaji sejarah periode Geger Pacinan sampai dengan pecahnya kerajaan Mataram ke dalam 4 kerajaan. Hasil kajian guru-guru muda itu akan dituangkan dalam bentuk buku. 

Maestro tari yang piawai stage managing bernama Heri Lentho juga bergabung menciptakan tari tentang ayah pangeran Sambernyawa yang kasmaran dengan perempuan Tionghoa. Hubungan ini berakhir tragis dengan ayah Pangeran Sambernyawa dibuang ke luar negeri dan perempuan Tionghoa itu dibunuh.

Seni lain yang hendak ditampilkan ialah wayang Geger Pacinan. Wayang ini diciptakan Jose Amadeus, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW. Ada sekitar 50 karakter yang dikreasi dan nanti dipentaskan pada hari mulainya Geger Pacinanyakni tanggal 10 Oktober 2020 mendatang. Pertunjukan pertama direncanakan di UKSW lalu akan menerima dan mengajukan tawaran pentas di kota-kota tempat kejadian Geger Pacinan dari Betawi sampai dengan Banyuwangi. Adapun kesenian teater terkait Geger Pacinan sedang digagas dengan pihak-pihak di dalam UKSW maupun bentuk-bentuk performanceyang lain.

Sekilas Geger Pacinan

Geger Pacinan dimulai dengan pembunuhan sekitar 10.000 Tionghoa di Betawi (Batavia) yang membuat Kapiten Sepanjang membuat perlawanan pada VOC dan segala kekuatan yang berkolaborasi dengan VOC selama 3 tahun (1740-1743). Kapiten Sepanjang (alias Souw Phan Ciang, alias Khe Panjang, alias Sepanjang) mengajak pangeran Kerajaan Mataram Islam bernama Pangeran Garendi yang kemudian disebutSunan Kuning bergelar Amangkurat V untuk melawan kolonial Belanda. Sayang, ia tertangkap dan dibuang di luar negeri. Lalu bergabunglah Pangeran Mangkubumi (kelak Hamengku Buwono I) dan Pangeran Sambernyawa (kemudian Mangku Negoro I). Kedua pangeran ini turutmendapat pendidikan perang dari Kapiten Sepanjang.

Kedua pangeran tersebut telah diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia sedangkan Kapiten Sepanjang belum diangkat menjadi pahlawan di mata negara. Melihat rekam jejak Kapiten Sepanjang dan kisah yang tertuang dalam babad hingga namanya menjadi namadaerah di beberapa kota-kabupaten di Pulau Jawa, maka sudah layak dan pantaslah ia diajukan sebagai pahlawan.

Hal ini gayung besambut dengan momentum peringatan 8 Windu Universitas Kristen Satya Wacana yang berkolaborasi dengan PuroMangkunegaran melalui arahan KRMH Daradjadi Gondodiprodjo selaku trah Mangku Negoro IV yang banyak meriset sejarah, termasuk Geger Pacinan sebagai adi karyanya. Inisiatif ini hendak menghidupkan kembali kisah Persekutuan Jawa-Tionghoa Melawan Kolonial Belanda dalam Geger Pacinan.

Persahabatan Jawa-Tionghoa guna memperkuat fondasi hubungan baik antar etnis dalam semangat kesetaraan, keadilan, dan martabat manusia. Selain itu, penghidupan narasi untuk dasar nation building Indonesia Tionghoa dalam mengIndonesia,’ terutama ditujukan bagigenerasi muda.