Paradigma Baru Pembelajaran di Pendidikan Tinggi menjadi tajuk Webinar Seri 1 yang diadakan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) melalui Pusat Pengajaran dan Pembelajaran Inovatif (P3I) dalam rangka implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Senin (12/09/2022). Seminar yang diadakan melalui zoom meeting ini menghadirkan Koordinator Nasional Duta Kampus Merdeka (DKM) Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Yanuar Dwi Prastyo, S.Pd.I., M.A., Ph.D., dan Dosen Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Yustinus Calvin Gai Mali, S. Pd., M.Hum., Ph.D., sebagai pembicara dan diikuti oleh dosen serta mahasiswa UKSW.

Dalam sambutan yang diberikan Pembantu Rektor 1 Bidang Akademik Dr. Iwan Setyawan dijelaskan bahwa pendidikan manusia seutuhnya (Whole Person Education) sudah disadari sejak UKSW berdiri. “Dalam hal ini UKSW sudah menggunakan konsep yang sama dengan MBKM walaupun di dalam implementasinya tidak sama persis dengan MBKM yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek,” ungkapnya. 

Disampaikan pula oleh Dr. Iwan, UKSW dari awal telah menyadari pentingnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi bidang yang ia minati di luar program studi yang ia telah pilih. Saat ini UKSW masih menjadi pengirim partisipan untuk kegiatan yang diadakan oleh pihak luar. “Dengan adanya seminar ini, diharapkan dosen-dosen dan penyelenggara MBKM di UKSW dapat menarik mahasiswa dari luar untuk mengikuti pembelajaran di UKSW,” imbuhnya.

Berangkat dari kesenjangan yang terdapat antara pencari kerja dan kesempatan kerja, program MBKM juga dilaksanakan agar mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mengambil mata kuliah yang ia minati walaupun tidak sesuai dengan bidang studi yang ia tempuh. Pernyataan ini disampaikan oleh Yanuar Dwi Prastyo, Ph.D. yang juga menjabat sebagai Direktur Program MBKM Universitas Bandar Lampung.

“Pada akhirnya, tidak semua lulusan perguruan tinggi bekerja sesuai dengan bidang studi yang mereka tempuh, maka diperlukan kesempatan untuk belajar sesuai dengan minat mahasiswa,” ungkapnya. Yanuar juga menyampaikan kepada mahasiswa untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mereka. “Ini saatnya mahasiswa keluar dari zona nyaman. Jangan ragu mengikuti kegiatan MBKM dan melakukan eksplorasi sebesar-besarnya dengan mengikuti kegiatan seperti IISMA, Student Exchange dan kegiatan lainnya. Jangan jadi mahasiswa mager,” pesannya.

Tantangan-tantangan MBKM

Namun demikian, dalam pelaksanaannya, Yanuar mengungkapkan tantangan-tantangan dalam pelaksanaan MBKM, diantaranya mindset dosen yang seringkali menganggap mahasiswanya tidak belajar jika tidak mengambil mata kuliah di program studi mereka sendiri. Hal ini dapat diatasi dengan mendampingi dan mengarahkan mahasiswa dan meminta mahasiswa untuk membuat logbook yang berisi catatan rekaman setiap kegiatan yang dilakukan sehingga bisa dijadikan pertanggungjawaban. 

“Selain itu, tantangan lainnya adalah membuat kurikulum yang mengadopsi MBKM. Kegiatan MBKM sebaiknya dilakukan setelah semester 5 sehingga pada semester 1 hingga semester 5 mahasiswa dapat belajar pada program studi yang mereka pilih sehingga pendidikan dasar dan kompetensi inti pada program studi mahasiswa sudah cukup matang sebelum belajar di bidang lain yang mereka minati,” tuturnya. 

Tantangan lainnya adalah rekognisi Satuan Kredit Semester (SKS). Maka dari itu, sebelum mahasiswa melaksanakan program MBKM, dapat ditentukan lebih dahulu mata kuliah apa yang akan mahasiswa ambil yang dapat direkognisi di program studi yang mereka ambil.

Sebagai penutup, Yanuar juga berpesan kepada mahasiswa untuk memanfaatkan program MBKM dengan semaksimal mungkin. Mahasiswa dapat berfokus untuk mempelajari kompetensi inti di program studi yang diambil, kemudian selanjutnya mengambil program MBKM.

Capai Esensi MBKM dengan Project Based Learning

Dalam kesempatan yang sama, Yustinus Calvin membuka materinya mengenai Project-Based Learning: From Theory to Practice dengan pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim, B.A, M.B.A., yang menyatakan bahwa esensi Merdeka Belajar adalah belajar berkolaborasi dan kreativitas yang dapat dilakukan dengan Project-Based Learning (PBL). 

Dalam PBL, metode pembelajaran terpusat pada siswa dan siswa mempunyai kesempatan untuk belajar secara kelompok dengan tujuan mencakup language (bahasa), content (konten), and skills (kemampuan). Calvin juga menjelaskan bagaimana menerapkan PBL dalam kegiatan belajar mengajar di kampus.

“Dalam melaksanakan PBL, dapat dimulai dengan melihat suatu permasalahan yang ingin diselesaikan, setelah itu diperlukan adanya proses yang berkelanjutan yaitu mahasiswa mengumpulkan data dan informasi. Tak kalah penting, sebuah projek itu juga melibatkan konteks dunia nyata, dampaknya dalam kehidupan serta ketertarikan mahasiswa dengan isu tersebut,” tutur Yustinus Calvin.

Selanjutnya, dirinya juga menambahkan mahasiswa dapat membuat projek tersebut dengan ide yang autentik, merefleksikannya, serta menerima masukan sebelum akhirnya dipresentasikan.