Dua narasumber mengupas tuntas persoalan penafsiran Kitab Suci melalui webinar bertajuk “Kritik Poskolonial, Kitab Suci dan Disparitas Sosial” yang digelar oleh Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), belum lama ini. Mereka adalah Dekan Fakultas Teologi UKSW Pdt. Yusak Budi Setyawan, MATS., Ph.D., dan Asisten Profesor Perjanjian Baru di Universitas George Fox, Newberg, Amerika Serikat Pdt. Ekaputra Tupamahu, Ph.D.

Webinar yang dilakukan secara online via Zoom Meeting dipandu oleh Koordinator Bidang Kemahasiswaan Fakultas Teologi UKSW, Pdt. Gunawan Yuli, D.Th. Webinar ini mengupas tentang bagaimana postkolonial dan disparitas sosial dapat membuka mindset baru dalam penafsiran Kitab Suci.

Kegiatan yang diikuti tidak hanya mahasiswa dan dosen UKSW ini dibuka oleh Ketua Program Studi Teologi Dr. Pdt. Rama Tulus Pilakoannu. Menurutnya, disparitas sosial mengindikasikan adanya sebuah jarak yang memisahkan relasi antar manusia dalam keberagaman etnis, suku, golongan dan agama.

Dijelaskan Pdt. Rama Tulus, hal ini terjadi akibat rasial yang sistemik pada sistem kekuasaan dan kemasyarakatan serta adanya diskriminasi stuktural pada kaum minoritas. “Pendekatan kritik postkolonial mengajak kita untuk membaca Kitab Suci dengan mindset yang baru sehingga membebaskan kita dari tafsiran masa lalu yang menjajah pikiran kita, dan kini kita dapat menafsirkan Kitab Suci dengan humanis keadilan,” ucapnya dalam sambutan.

Pdt. Yusak Budi Setyawan, MATS., Ph.D., membahas mengenai topik hermeneutik postkolonial dan disparitas sosial. Hermeneutikal postkolonial, dikatakan Pdt. Yusak lahir dari cultural studies khususnya postcolonial studies dan sebenarnya tidak lahir dari pendekatan biblis reader-response criticism, walaupun dalam beberapa hal bersinggungan. Hermenuetik Poskolonial dipahami dengan poskolonial yang terkait dengan dominasi dan hegemoni bangsa Barat yang menguasai. Tetapi pada tahap selanjutnya postkolonial menjadi strategi dan cara yang dilakukan bangsa yang dahulu terjajah untuk tetap bertahan.

Pahami

Menurut Yusak, Paradigma Hermeneutik Postkolonial pada teks Alkitab muncul dan bertumbuh dalam konteks kolonialisme yang kental dan imperialisme dari teks dalam Kitab Kejadian hingga Wahyu. Pembentukan teks Perjanjian lama terjadi ketika komunitas iman berada dibawah penjajahan dan mengisahkan tentang kehidupan bangsa terjajah, sedangkan pembentukan Perjanjian Baru ditulis dalam konteks kolonialisme terhadap kekaisaran Roma.

“Teks dalam konteks kita merupakan dinamika kehidupan suatu masyarakat seperti budaya, sistem nilai, pandangan hidup, sistem ekonomi, sistem hukum, politik dan ideologi yang beragam sehingga persoalan disparitas sosial dalam konteks kita mengikuti perkembangan dalam dunia modern ini,” terang Yusak.

Lanjutnya, penafsir menyadari identitas diri dan identifikasi pengalaman dalam konteks postkolonial ini sebagai strategi untuk memahami teks-teks biblis. Sedangkan agenda dari hermenuetik postkolonial merupakan penjajahan dalam bentuk konteks sekaligus upaya pembebasan teks biblis yang dipakai sebagai alat penjajahan.

“Tak hanya itu, persoalan disparitas sosial dalam konteks teks biblis juga ada, misalnya isu kebun anggur Amos, orang kaya dan miskin dalam Kitab Yesaya,  disparitas kekuasaan dalam kisah Anggur Nabot dalam 1 Raja-raja 21:1-29, disparitas akses kehidupan agama dalam narasi Natal dan kisah orang Samaria, disparitas sosial dalam khotbah Yesus di Bukit, disparitas status sosial antara kelompok orang merdeka dan kaum budak, kelompok kaya dan miskin dalam komunitas Kristen di Korintus,” ungkap Yusak.

Webinar yang dihadiri sedikitnya 600 peserta ini menghadirkan pembicara kedua Pdt. Ekaputra Tupamahu, Ph.D., dengan topi sama dilihat dari sudut pandang Bahasa.

Menurut Eka, teori postkolonial merupakan strategi pembacaan teks yang berkaitan dengan hermeneutika sebagai seni memahami teori postkolonial dalam studi Alkitab sebagai sebuah gerakan intelektual yang sudah ada sejak tahun 1970-an.

“Teori postkolonial juga bisa digambarkan sebagai sebuah gerakan resistensi intelektual dari dalam untuk mendestruksi dan mendestabilisasi penerimaan kebenaran universal yang dibuat oleh pemikir-pemikir Barat. Selanjutnya digunakan untuk mendominasi dunia intelektual yang dipertahankan oleh relasi-relasi kekuasaan kolonial. Hal ini, membuka kemungkinan akan perbedaan yang dapat membuka ruang bagi kesubjektivitasan kaum terjajah,” ucap Eka.

Eka menekankan bahwa Kitab Suci adalah teks mati yang harus kita hidupi dan kita terapkan di dalam kehidupan kita agar kita tidak lagi terjajah akan penafsiran lama. (jje_mg/chis/upk_bpha/foto:istimewa).