Tema yang mendasari gerak kerja Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat ini adalah peningkatan penelitian. Hal ini didasari oleh pandangan bahwa riset sebagai proses produksi pengetahuan merupakan fungsi utama sebuah universitas. Hal ini diungkapkan Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc. Ph.D dalam rapat senat terbuka UKSW dalam rangka dies natalis ke-63 yang jatuh pada Sabtu (30/11), di Balairung Universitas.

“Riset tidak menyingkirkan pengajaran, riset merupakan aktivitas yang mendasari, menguatkan dan mendinamisasi kegiatan pengajaran. Kita harus memandang bahwa riset ditempatkan sentral dalam fungsi pendidikan tinggi mulai hari ini dan ke depan. Karena itu pimpinan UKSW mengatakan make way for research,” terangnya. 

Selain riset, UKSW juga sedang melakukan perancangan ulang kurikulum khususnya bagi S1. Perancangan ulang tersebut dilakukan selain untuk mengurangi beban mengajar dosen juga untuk mengembalikan orientasi pada pendidikan pribadi yang holistik.

Apa yang dilakukan di atas disebutkan Neil Rupidara sebagai upaya rekontekstualisasi cara beruniversitas. Sebagai sebuah universitas, UKSW memiliki peran sebagai penyerap, peramu serta penghasil pengetahuan.  UKSW juga menjalankan fungsi produksi pengetahuan secara kritis, prinsipil dan juga kreatif berdasar nilai kasih, keadilan dan kebenaran.

“Peran ini menempatkan bidang riset sebagai dominant engine  dari perkembangan UKSW ke depan. Disamping itu, bermodal pengetahuan, keahlian dan pengalaman, melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi UKSW juga terus menempatkan diri sebagai bagian pembaharu kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” terangnya.

Dalam sambutannya, Neil Rupidara juga menegaskan posisi UKSW dalam peta nasional perguruan tinggi saat ini. Dalam kaitannya dengan riset, dalam peta nasional UKSW adalah universitas  peringkat ke-31 untuk kinerja riset perguruan tinggi atau peringkat ke-3 pada kelompok perguruan tinggi swasta. UKSW juga berada pada klaster mandiri, klaster tertinggi secara nasional. Untuk kategori pengabdian masyarakat, UKSW berada di peringkat ke-99 dan untuk kategori kemahasiswaan UKSW ada diperingkat 129 nasional.

Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) Pdt. Tuhoni Telaumbanua, Ph.D dalam sambutannya mengungkapkan bahwa tema dies yang diangkat tahun ini sangat menarik. Karenanya, Pdt. Tuhoni mengajak sivitas akademika untuk berjalan ke depan dengan semangat yang baru.

Pdt. Tuhoni Telaumbanua juga mengajak civitas akademika untuk melangkah dalam ketergantungan kepadaNya, melangkah dalam kebersamaan langkah semua elemen dan melangkah dengan cepat, tepat serta strategis.


Jangan lengah

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL DIKTI) Wilayah VI Prof. Dwi Yuwono Puji Sugiharto, M.Pd.Kons yang juga hadir dalam peringatan dies natalis UKSW menyampaikan dukungannya atas langkah-langkah yang ditempuh UKSW. Salah satunya adalah gagasan merancang ulang kurikulum yang hendaknya jangan mengabaikan indikator yang diterapkan pemerintah. Diusianya yang memasuki 63 tahun, Kepala LL DIKTI Wilayah VI juga mengingatkan UKSW supaya jangan lengah.

“Saat ini ada 52 universitas di Jawa Tengah dan ada 35 pendatang baru yang larinya kencang. Karena itu UKSW jangan lengah. Rekontekstualisasi cara beruniversitas akan bermakna jika dilakukan dengan cepat. Kunci nya adalah kecepatan, dan strateginya harus cepat,” katanya.

Strategi tersebut lebih lanjut dikatakan Prof. DYP Sugiharto  adalah mobilisasi dan orkestrasi. “Seluruh komponen dimobilisasi untuk mencapai perwujudan perubahan beruniversitas dan seluruh instrument dimainkan diperankan secara optimal sesuai perannya,” imbuhnya.

Turut hadir juga dalam upacara peringatan dies natalis UKSW hari ini adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah Jumeri, S.Tp.,M.Si, Pengurus dan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW), serta sivitas akademika UKSW. Tema yang diangkat dalam peringatan dies natalis tahun ini adalah “Percaya KepadaNya, Tuhan Pimpin Perjalanan Kita”.