Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bekerjasama dengan Pusat Kajian Kelembagaan UKSW menyelenggarakan webinar mengangkat tema Menghindari “Perampokan” Akademik : Etika Publikasi Ilmiah di Perguruan Tinggi, Rabu (3/6) lalu. Setidaknya ada 100 peserta mengikuti kegiatan ini.

Hadir sebagai pembicara adalah Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D, dosen senior Charles Darwin University Australia Jonathan Lassa, Ph.D dan dosen Auckland University of Technology Nelly Marthin Anatias, Ph.D. Berlangsung selama kurang lebih 2 jam, acara ini dipandu oleh Dr. Wilson M.A. Therik dosen dosen Fakultas Interdisiplin UKSW.

Ketua PusAPDem UKSW Pdt. Izak Y.M. Lattu, Ph.D menuturkan bahwa kegiatan ini diselengarkan dengan tujuan agar ada kesadaran akademik betapa pentingnya menghargai karya intelektual orang lain untuk tidak dirampok atau dikutip tanpa menyebutkan sumber.

“Bahkan lebih dari itu, menuntut untuk mencantumkan nama sebagai penulis artikel namun tidak memiliki kontribusi apapun dalam proses penulisan artikel,” imbuhnya.  

Jonathan Lassa dalam paparan materinya menekankan bahwa “perampokan akademik” dimaknai sebagai sebuah demonstrasi kekuasaan yang exploitative dari pengajar dan peneliti universitas dengan dua fenomena utama.

“Pertama, skripsi, tesis dan disertasi mahasiswa diambil oleh dosen pembimbing dengan atau tanpa persetujuan atau sepengetahuan mahasiswa yang bersangkutan lalu dikirimkan ke jurnal ilmiah maupun konferensi; dengan atau tidak sama sekali menempatkan mahasiswa sebagai penulis artikel atau kertas akademik,” terang Jonathan Lassa.

Yang kedua, ditekankan beliau adalah demonstrasi eksploitasi yang dilakukan oleh mereka yang berposisi lebih senior, baik umum maupun posisi seperti ketua jurusan, dekan bahkan rektor.

“Sekalipun dengan modus operandi dimana konstribusi intelektual yang memadai dan mengklaim sebagai karyanya dengan menempatkannya sebagi penulis pertama dengan mengirimkannya kepada jurnal ilmiah,” imbuhnya. Ia juga kembali menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak bisa disimpulkan dari satu sudut pandang saja, mahasiswa dan pembaca diminta untuk lebih kritis dalam melihat konteks diatas.

Pembicara kedua, Nelly Martin Anatias, Ph.D mengingatkan bahwa ada ketimpangan power relation antara dosen mahasiswa, ada gap yang membuat dosen bisa memanfaatkan peluang untuk menekan mahasiswa dengan mengambil hak cipta mahasiswa. Menurutnya, ketimpangan kekuasaan antara dosen dan mahasiswa harus dihindari dengan pengawasan komisi etik di perguruan tinggi.

“Kedua, masih ada mahasiswa bahkan dosen yang tidak mengetahui cara sitasi yang benar seperti mengutip karya ilmiah orang lain. Hal ini tentu merugikan penulis yang karyanya dikutip karena proses menghasilkan sebuah karya ilmiah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengajarkan mata kuliah Academic Writing kepada mahasiswa dan juga penyegaran kepada dosen. Ketiga adalah masalah integritas, komunikasi antara dosen dan mahasiswa harus dibangun sejak pertama kali bekerjasama untuk penelitian hingga publikasi, berapa persen kontribusi dosen dan mahasiswa harus dibicarakan dan diputuskan bersama untuk menentukan apakah nama dosen boleh dicantumkan dalam tulisan mahasiswa atau tidak,” terang Nelly Martin.

Pada sesi terakhir, Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D menyampaikan materi tentang bagaimana menuju iklim riset beretika. Neil Rupidara juga sepakat dengan apa yang dikatakan oleh pembicara lainnya yang mengungkapkan bahwa perlu adanya keterbukaan sedari awal antara pembimbing dan yang dibimbing.

“Keterbukaan mengenai seberapa besar kontribusi yang diberikan oleh dosen dan mahasiswa sehingga ada kesepakatan bersama. Ketika nanti didapati kasus seperti “Perampokan Akademik” atau pelanggaran-pelanggaran etika di dalam bidang akademik, perlu dilaporkan ke Komite Etika Riset agar bisa ditangani demi membangun tradisi akademik yang beretika,” tandasnya.  (fre_jurkam/upk/chis_bpha, foto: fre).