Tatag, teteg, tutug dalam menghadapi kenormalan baru dikupas dalam webinar yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Selasa (14/7). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-21 Fakultas Psikologi  ini menghadirkan dua orang narasumber yang ahli dibidangnya, yaitu Ketua Asosiasi Psikolgi Positif Indonesia Dr. Nurlaila Effendy, M.Si dan Praktisi & Pelajar Kawruh Juwa Drs. R. Budi Sarwono, MA.

Dipandu Dosen Fakultas Psikologi S.A Kristianingsih, M.Si, MH., Psi, acara ini diikuti sekitar 259 peserta dan dihadiri Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Jawa Tengah Ouys Alkharani, MM, M.Psi, Psikolog.

Menyikapi kenormalan baru sebagai  perubahan perilaku, kebiasaan, dan tatanan dalam kehidupan masyarakat; Pembantu Rektor II Dr. Sri Sulandjari, S.E., M.S.I.E. menyampaikan dalam sambutannya bahwa pencarian tatanan proses untuk melawan penyebaran virus covid-19 adalah hal yang menarik.

“Makhluk sosial, entah sebagai individu atau masyarakat harus tatag dalam menghadapi virus covid-19, dan ketika menjalaninya pun diharapkan teteg, jangan separuh-separuh harus tutug sampai akhir,” ujarnya.

Seperti Kupu-kupu

Dekan Fakultas Psikologi Berta Esti Ari Prasetya, S.Psi., M.A. menyampaikan bahwa dalam sebuah catatan statistik sensus penduduk pada tahun 2010, disebutkan terdapat 1331 suku di Indonesia. Hal tersebut dinilai bisa menjadi sumber kajian yang tak akan ada habisnya jika digunakan untuk pengembangan  psikologi lintas budaya yang ada di Indonesia atau Asia.

Dalam kesempatan ini, Fakultas Psikologi  mengangkat salah satu kearifan lokal dari suku Jawa yaitu sikap  tatag, teteg, tutug dalam menghadapi kenormalan baru agar setiap kita dimampukan untuk beradaptasi pada era kenormalan baru ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikannya, hal ini juga tergambar dalam simbol dies natalis fakultas yang dipimpinnya tahun ini. Simbol tahun ini menggambarkan seekor kupu-kupu yang tidak hanya sekedar keluar dari kepompong, tetapi juga mampu terbang untuk melalui setiap tekanan dalam setiap fase kehidupannya.

“Saya mengajak setiap peserta yang hadir untuk tidak hanya sekedar bertahan tetapi bahkan bisa melenting lebih tinggi dalam melalui masa pandemi ini,” imbuhnya.

Berada di tengah kubus

Budi Sarwono membuka paparannya dengan menjelaskan lebih lanjut istilah bahasa Jawa yang menjadi topik webinar kali ini.

“Sapa sing tatag lan teteg bakal tutug,  yang berarti barangsiapa yang teguh, tabah (tatag) dan kuat dalam pendirian serta tidak mudah terbelokkan oleh rayuan godaan (teteg), dia akan berhasil mencapai apa yang diidamkan (tutug),” ujarnya.

Budi Sarwono mengajak setiap peserta yang hadir untuk membayangkan kehidupan kita saat ini sedang berada di tengah-tengah kubus, yang dimaknai sebagai sebuah kehidupan.

“Dalam menjalani suatu kehiduapan ya jangan terlalu di atas, jangan terlalu di bawah. Kalau kita berada di tengah kita akan bisa sampai di tatag dan teteg-nya. Untuk menjadi tatag kita harus hidup didalam masa saiki (sekarang) atau dalam terminologi Jawa disebut raos langgeng. Karena dimasa depan ada ketakutan, kekhawatiran dan dimasa lalu ada rasa bersalah, dendam dan sakit hati. ” tegasnya.

Diperlukan positive character

“Sapose, salam positif semua,” begitu sapaan akrab dari Nurlaila Effendy diawal pemaparan materinya. Nurlaila mengajak para peserta untuk melihat tatag, teteg, tutug dengan pendekatan psikologi positif dengan melihat emosi positif yang lebih dominan.

Mengawali pemaparannya dengan memperlihatkan perubahan-perubahan yang terus terjadi didunia, Ia mengatakan bahwa Covid-19 membuat akselerasi revolusi Industri 4.0 yang dimana akhirnya berujung pada human crisis dan karena itulah diperlukanlah positive character

Postive character disini diperlukan agar kita bisa beradaptasi dengan kenormalam baru. Contoh karakter positif yang bisa dikembangkan adalah ketahanan, optimisme, keyakinan dan mempunyai harapan. Karakter positif ini bisa mengkombinasi untuk fokus ke masa depan dengan menikmati masa saat ini, disamping juga mengembangkan kekuatan agar tetap bisa maju dan bisa tatag, teteg dan tutug dengan didominasi emosi positif,” terangnya.