Buku berjudul “Orang Bajo di Pulau Kera Kabupaten Kupang” menjadi salah satu karya menarik yang diterbitkan oleh Satya Wacana University Press, akhir tahun lalu. Buku yang merupakan pengembangan dari penelitian lapangan oleh Peneliti Pusat Studi Agama, Pluralisme dan Demokrasi (PusAPDem) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Pulau Kera Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini ditulis oleh Dr. Wilson M.A. Therik, S.E.,M.Si.

Dr. Wilson yang merupakan ketua tim peneliti PusAPDem UKSW di Pulau Kera menjadi penulis utama sekaligus penyunting. Turut terlibat sebagai co-writer dalam penulisan buku yakni dua anggota peneliti PusAPDem UKSW Yesaya Sandang, S.H., M.Hum., Ph.D (Cand) dan Pdt. Astrid B. Lusi., S.Si-Teol., M.Th. 

Dijelaskan dosen pada Program Studi Magister dan Doktor Studi Pembangunan Fakultas Interdisiplin UKSW ini, bahwa buku yang ditulisnya adalah salah satu kontribusi untuk perumusan kebijakan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia. Pemerintah Kabupaten Kupang dan Pemerintah Provinsi NTT selaku pemangku kebijakan pembangunan di daerah menjadi sasaran utama. Sasaran lainnya adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan selaku pemangku kebijakan di tingkat pusat.

“Buku ini juga relevan sebagai referensi bagi para pengkaji pembangunan daerah kepulauan terutama pada pulau-pulau kecil dan kajian pengelolaan destinasi pariwisata berbasis pada komunitas (community based tourism). Selain itu, buku ini penting untuk dibaca karena Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar nomor satu di dunia namun masyarakat nelayan di pulau-pulau kecil dan di wilayah pesisir termasuk orang bajo di Pulau Kera merupakan golongan masyarakat yang paling miskin,” terang Wilson.

Pulau Kera berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 2017 adalah satu dari 1.192 pulau di Provinsi NTT yang terletak di Teluk Kupang dengan luas daratan lebih dari 25 hektar. Pulau ini seharusnya tidak berpenduduk karena terletak pada Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang dan dimanfaatkan sebagai daerah wisata berbasis konservasi. Namun faktanya, jauh sebelum penetapan TWAL Teluk Kupang, Pulau Kera sudah di tempati oleh warga pendatang musiman yang kini bekerja sebagai nelayan tradisional.

“Beberapa artefak yang ada di pulau Kera antara lain kuburan tua berupa susunan batu membuktikan bahwa memang pulau Kera sudah lama dihuni,” kata Wilson.

Catatan sejarah dan potensi pembangunan

Disampaikan Wilson, buku yang dapat dibeli di sejumlah marketplace mulai Maret mendatang ini terdiri dari lima bab ulasan empiris dan kajian pustaka yang dimulai dari catatan historis tentang kehidupan orang Bajo, hingga pembahasan tentang potensi pembangunan berkelanjutan di Pulau Kera. Bab pertama buku ini berisikan tulisan tentang sejarah penghuniannya berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat di Pulau Kera dan juga dari hasil penelusuran literatur yang sangat terbatas jumlahnya. 

Menurutnya tulisan pada bab pertama ini masih sangat mungkin dikembangkan menjadi tulisan tersendiri yang secara khusus membahas tentang sejarah Pulau Kera oleh peneliti lain. Sementara bab dua secara khusus menggambarkan tentang kehidupan masyarakat di Pulau Kera berdasarkan aktifitas sosial-ekonomi, sosial-politik, sosial-budaya dan sosial-ekologi.

Wilson menambahkan bab selanjutnya lebih menitikberatkan pada analisis tentang relasi negara dan masyarakat di Pulau Kera terutama mengenai statusnya ditinjau dari penerapan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta regulasi dan kebijakan dari pemerintah terkait Pulau Kera yang berpenghuni.

“Sementara bab empat berisikan kesimpulan dan rekomendasi kebijakan dilengkapi dengan dua tulisan tentang urgensi pemberdayaan perempuan dan anak di Pulau Kera oleh Pdt. Astrid Bonik Lusi serta sejarah pengembangan pariwisata di Pulau Kera oleh Yesaya Sandang. Sedangkan bab terakhir secara khusus membahas tentang metode penelitian yang digunakan mengingat literatur tentang pulau Kera sangat terbatas,” imbuh Wilson.