Beranda»Fh Uksw Ajak Mahasiswa Melek Diplomasi
FOKUS UKSW
09 September 2019 16:05
FH UKSW Ajak Mahasiswa Melek Diplomasi

FH UKSW Ajak Mahasiswa Melek Diplomasi

Fakultas Hukum (FH) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar Kuliah Umum “Indonesia dan Hukum Internasional” di Balairung Universitas, Kamis (30/8) dengan narasumber Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia, Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, SH., MA.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara Diplomacy Festival (Diplo Fest) 2019 yang digagas oleh Kemenlu RI dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Semarang dan Salatiga. “Ini merupakan upaya Kemenlu mengenalkan dunia diplomasi dan hubungan internasional kepada masyarakat, terutama generasi muda. Kegiatan seperti ini sudah digelar di banyak kota besar di Indonesia. Tujuannya tak lain untuk menginspirasi generasi muda, khususnya mahasiswa dan pelajar agar menjadi bagian diplomasi Indonesia,” tutur Damos Dumoli.

Damos menambahkan, rangkaian kegiatan Diplofest dimulai Kamis kemarin dengan kuliah umum di enam universitas. Keenam universitas itu yakni UKSW, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), dan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

Ketika mengisi kuliah umum kemarin, Damos menyampaikan beberapa isu dunia internasional dari perspektif hukum internasional, seperti isu hukum laut dan perbatasan, state responsibility, dan ekonomi politik internasional.

Damos dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak lemah dalam berdiplomasi dan mempergunakan hukum internasional untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Menurutnya sebagian besar masyarakat dunia masih menganggap Indonesia lemah dalam berdiplomasi, padahal justru para diplomat Indonesia pernah mencetak prestasi salah satunya melalui Deklarasi Djuanda tahun 1957.

Dikatakan dosen luar biasa di sejumlah universitas ini, Deklarasi Djuanda merupakan salah satu upaya keras para diplomat dalam melindungi Indonesia sebagai sebuah negara kesatuan. Dalam deklarasi Djuanda dikatakan Damos, Indonesia memperpanjang teritorial laut dari 3 mil ke 12 mil dari garis pantai sehingga dianggap melanggar hukum internasional.

Selanjutnya, Indonesia melakukan berbagai upaya diplomasi hingga berhasil menciptakan hukum internasional baru dan mendapat pengakuan internasional. “Hasil diplomasi dengan Prof. Mochtar Kusumaatmadja sebagai salah satu tokohnya menjadikan kita sebagai pembuat hukum internasional, bukan melanggar hukum. Indonesia menggunakan hukum internasional sebagai cara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya,” tegasnya.

Karir

Pria yang pernah menjabat sebagai Konsul Jenderal RI di Frankfurt tersebut turut membagikan sejumlah tips bagi peserta kuliah umum yang ingin meniti karir sebagai diplomat. Kuncinya yakni dengan menguasai salah satu bahasa asing yang diakui oleh PBB diluar bahasa Inggris.

Selain kuliah umum, kegiatan kemarin turut dirangkai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara FH UKSW dengan Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kemenlu. Penandatangan kerjasama dilakukan oleh Dekan FH, Dr. Marihot Janpieter Hutajulu, S.H.,M.Hum., dan Damos Dumoli dengan ruang lingkup perjanjian kerja sama meliputi pengembangan regulasi dan pengkajian kebijakan; program magang; pelaksanaan lokakarya, seminar nasional, FGD; serta peningkatan kualitas dan pemberdayaan SDM melalui pendidikan dan pelatihan.

Hal ini memperoleh dukungan positif dari Rektor UKSW, Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D., yang turut menyaksikan penandatangan kerjasama. Rektor berharap kedepan kerjasama dapat ditingkatkan dalam hal yang lebih luas sehingga bermanfaat untuk institusi dan masyarakat. (chis/upk_bpha/foto:chis_bpha).